LAPORAN PRAKTIKUM: PENGENALAN ALAT-ALAT LABORATORIUM - Dwi Sulistiyo

Thursday, September 13, 2018

LAPORAN PRAKTIKUM: PENGENALAN ALAT-ALAT LABORATORIUM


LAPORAN PRAKTIKUM KIMIA UMUM







Disusun Oleh:
Nama                 : Dwi Sulistiyo
NPM                  : E1C016061
Prodi                  : Peternakan
Kelompok          : V(lima)
Hari/Jam            : Selasa/14:00-15:40
Tanggal              : 11 Oktober 2016
Dosen                : 1.  Drs. Syafnil, M.Si
                             2.  Dra. Devi Silsia, M.Si
Ko-Ass              : 1.  Andi Kardo Samosir / E1G012034
                             2.  Andika Putra / E1G013034

Objek Praktikum           : PENGENALAN ALAT-ALAT

  LABORATORIUM


LABORATORIUM TEKNOLOGI PERTANIAN
FAKULTAS PERTANIAN
UNIVERSITAS BENGKULU
2016


BAB I

PENDAHULUAN
1.1  Latar Belakang
Sebelum memulai melakukan kegiatan praktikum di laboratorium, kita sebagai praktikan harus mengenal alat-alat laboratorium dan semua fungsi peralatan dasar yang biasa digunakan dalam laboratorium kimia. Pengenalan alat-alat yang akan dipergunakan dalam laboratorium sangat penting guna kelancaran percobaan yang dilaksanakan diantaranya adalah menghindari kecelakaan kerja dan gagalnya percobaan.
Alat-alat laboratorium biasanya dapat rusak atau bahkan berbahaya jika tidak sesuai dengan prosedur pemakaian . Oleh karena itu,  pemahaman fungsi dan cara kerja peralatan serta bahan harus mutlak dikuasai oleh praktikan sebelum melakukan praktikum di laboratorium kimia.
Selain itu kebersihan dari alat dapat mempengaruhi hasil praktikum. Apabila alat yang akan digunakan tersebut tidak bersih, maka akan terjadi hal-hal yang tidak diinginkan, misalnya pada alat tersebut masih tersisa zat kimia, maka zat tersebut dapat saja bereaksi dengan zat yang kita gunakan sesudahnya dan dapat mengakibatkan kegagalan dalam praktikum. Tentunya mengenal dan memahami alat laboratorium sangatlah penting bagi praktikan agar praktikum berjalan lancar.

1.2  Tujuan
1.      Mahasiswa mengetahui nama dan fungsi alat-alat laboratorium
2.      Mahasiswa mengetahui jenis, sifat, dan fungsi zat kimia
3.      Mahasiswa mengetahui cara penggunaan beberapa alat-alat laboratorium



BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

Dalam sebuah praktikum, praktikan diwajibkan mengenal dan memahami cara kerja serta fungsi dan alat-alat di laboratorium. Selain untuk menghindari kecelakaan dan bahaya, dengan memahami cara kerja dan fungsi dari masing-masing alat, praktikan dapat melaksanakan praktikum dengan sempurna (Walton, 1998).
Pengenalan alat-alat ini meliputi macam-macam alat, mengetahui nama-namanya, memahami bentuk, fungsi, serta cara kerja alat-alat tersebut. Setiap alat dirancang atau dibuat dengan bahan-bahan yang berbeda satu sama lain dan mempunyai fungsi yang sangat spesifik. Kebanyakan peralatan untuk percobaan–percobaan di dalam laboraturium terbuat dari gelas. Meskipun peralatan-peralatan tersebut telah siap dipakai, tetapi di dalam pemasangan alat untuk suatu percobaan kadang kala diperlukan sambungan-sambungan dengan gelas atau membuat peralatan khusus sesuai kebutuhan (Imamkhasani, 2000).
Teori pengenalan alat-alat laboratorium bertujuan untuk membuat praktikan mengetahui fungsi atau kegunaan alat-alat laboratorium, oleh karena itu, fungsi daripada tiap-tiap alat akan dijelaskan dengan tujuan agar praktikan dapat memahami secara jelas kegunaan alat-alat laboratorium yang akan dipakai. Pada dasarnya setiap alat memiliki nama yang menunjukkan kegunaan alat tersebut, prinsip kerja atau proses yang berlangsung ketika alat digunakan. Beberapa kegunaan alat dapat dikenali berdasarkan namanya. Penamaan alat-alat yang berfungsi mengukur biasanya diakhiri dengan kata meter seperti thermometer, hygrometer, spektrofotometer, dll. Alat-alat pengukur yang disertai dengan informasi tertulis, biasanya diberi tambahan “graph” seperti thermograph, barograph (Moningka, 2008).
Nama pada setiap alat menggambarkan mengenai kegunaan alat dan prinsip kerja pada alat yang bersangkutan. Dalam penggunaannya ada alat-alat yang bersifat umum dan ada pula yang khusus. Peralatan umum biasanya digunakan untuk suatu kegiatan reparasi, sedangkan peralatan khusus lebih banyak digunakan untuk suatu pengukuran atau penentuan (Moningka, 2008).
Sebelum melakukan praktikum, hendaknya praktikan memeriksa alat-alat yang akan digunakan. Untuk alat-alat gelas dalam penggunaannya memerlukan ketelitian dan kehati-hatian, misalnya praktikan memeriksa alat tersebut apa ada yang cacat atau rusak. Untuk memindahkan zat-zat kimia yang berwujud cair kita sering menghadapi suatu kesulitan yang mungkin disebabkan oleh tekanan biasa yang mempengaruhi dalam menentukan volume cairan itu dengan tepat. Maka dari itu dapat digunakan pipet dan buret yang gunanya untuk memindahkan volume cairan (Arifin, 1996).
Dalam sebuah praktikum, praktikan diwajibkan mengenal dan memahami cara kerja serta fungsi dari alat-alat yang ada dilaboratorium. Selain untuk menghindari kecelakaan dan bahaya, dengan memahami cara kerja dan fungsi dari masing-masing alat, praktikan dapat melaksanakan praktikum dengan sempurna (Walton, 1998).
Suatu laboratorium harus merupakan tempat yang aman bagi para pekerja atau pemakainya yaitu para praktikan. Aman terhadap kemungkinan kecelakaan fatal maupun sakit atau gangguan kesehatan lainnya. Hanya didalam laboratorium yang aman, bebas dari rasa khawatir akan kecelakaan, dan keracunan seseorang dapat bekerja dengan aman, produktif, dan efesien (Khasani, 1990).
Pekerjaan dalam laboratorium biasanya sering menggunakan beberapa alat gelas. Penggunaan alat ini dengan tepat penting untuk diketahui agar pekerjaan tersebut dapat berjalan dengan baik. Keadaan yang aman dalam suatu laboratorium dapat kita ciptakan apabila ada kemauan dari para pekerja, pengguna, maupun kelompok pekerja laboratorium untuk menjaga dan melindungi diri, diperlukan kesadaran bahwa kecelakaan yang terjadi dapat berakibat pada dirinya sendiri maupun orang lain disekitarnya. Tujuan dari praktikum pengenalan alat ini adalah untuk mengenal beberapa macam alat gelas yang sering digunakan dalam laboratorium dan penggunaanya (Ginting, 2000).
Pemakaian bahan kimia akan sangat berpengaruh terhadap alat-alat yang digunakan. Setiap alat dirancang dengan bahan-bahan yang berbeda, ada yang terbuat dari gelas, porselen, kayu, alumunium, plastik, dan lain-lain sesuai dengan fungsinya masing-masing. Alat-alat tersebut ada yang tahan terhadap basa, tahan terhadap kondisi asam, tahan terhadap panas, dan ada yang hanya tahan terhadap kondisi normal. Oleh sebab itu, penggunaan alat dan bahan kimia sangat menentukan keberhasilan suatu penelitian (Mored, 2000).
Dalam pengukuran harus diperhatikan dua hal yaitu kesalahan pengkuran dengan alat ukur terutama jenis ukur, misalnya mengukur massa zat dalam satuan gram sedangkan timbangan analitis sampai miligram. Jika sejumlah zat ditimbang dengan kedua timbangan maka didalam jumlah angka yang berbeda. Jumlah digit dari pengukuran yang menyangkut masalah kecermatan dan ketelitian (Syukri, 1994).
Kebenaran hipotesis dapat diketahui setelah diuji dengan percobaan di laboratorium. Data yang diperoleh mungkin sesuai dengan hipotesis, tetapi mungkin juga tidak. Jika tidak, berarti kesalahan mungkin saja terjadi pada percobaan atau hipotesisnya yang keliru. Ada hipotesis, seperti yang dirumuskan Einstein, belum dapat diuji kebenarannya sampai saat ini, karena keterbatasan alat dan kemampuan manusia. Suatu penelitian memerlukan dana, tenaga dan waktu yang banyak, maka kesalahan hipotesis akan mengakibatkan percobaan yang dilakukan sia-sia. Oleh karena itu penanganannya harus sesuai dengan petunjuk. Demikian juga dengan pemakaian alat laboratorium yang sebagian terbuat dari gelas yang mudah pecah (Syukri, 1999).
Dalam melakukan percobaan dilaboratorium atau bekerja dalam laboratorium terutama laboratorium kimia, seseorang akan selalu dihadapkan pada hal-hal yang berhubungan dengan bahan-bahan kimia, peralatan yang dapat berbahaya dan merugikan bagi diri sendiri, orang lain maupun lingkungan sekitar, bila tidak digunakan dengan baik. Seperti layaknya pekerjaan lain, bekerja dalam laboratorium kimia juga mempunyai resiko kecelakaan kerja. Resiko ini dapat disebabkan karena faktor ketidaksengajaan, keteledoran dan sebab-sebab lain yang diluar kendali manusia.



BAB III

METODOLOGI

3.1  Alat dan Bahan
1.      Gelas Piala                              19. Corong
2.      Erlemeyer                                20. Rak Tabung Reaksi
3.      Labu Ukur                               21. Penjepit Tabung Reaksi
4.      Petridish                                  22. Statif dan Klem
5.      Gelas Ukur                              23. Sikat Tabung Reaksi
6.      Kaca Arloji                              24. Segitiga
7.      Tabung Reaksi                        25. Bola Hisap
8.      Cawan Penguap                      26. Lampu Spiritus
9.      Mortal                                     27. Bunsen
10.  Krush                                      28. Kaki Tiga
11.  Pipet Tetes                              29. Botol Semprot
12.  Pipet Volum                            30. Kawat Kasa
13.  Pipet Gondok                          31. Klem Utilitas
14.  Batang Pengaduk                    32. Oven
15.  Sudip                                       33. Tanur
16.  Corong pisah                           34. Hot Plane
17.  Desikator                                 35.Timbangan Analitis
18.  Buret

3.2  Cara Kerja
1.      Cara menggunakan pipet tetes
Mengambil zat yang akan direaksikan, kemudian cara dalam memasukkannya kedalam tabung reaksi yaitu dengan meneteskan pada dinding tabung. Ukuran dalam penetesan adalah ml, dan dalam 1 ml yaitu adalah 10 tetes.
2.      Cara menggunakan buret
Mengisi buret dengan menggunakan corong untuk menghindari tumpahan. Mengangkat corong agar larutan yang diisikan mengalir bebas. Jangan lupa untuk menutup stopcock (keran) dibagian bawah buret. Kemudian setelah larutan sudah terisi kedalam buret, lakukan proses titrasi dengan mengatur stopcock (keran) tersebut dengan pelan-pelan.
3.      Cara menggunaka timbangan analitik
Langkah pertama yang harus dilakukan adalah mencolokkan kabel pada arus 220-250 v. Kemudian menekan tombol ON/OFF, jika sudah dalam keadaan ON, maka layar akan hidup. Selanjutnya yaitu memilih satuan pada tombol Unit. Satuan yang tersedia yaitu miligram, gram kilogram. Ketelitian timbangan analitik yaitu 0,01 miligram. Setelah satuan sudah ditentukan, maka menggunakan Kaca Arloji untuk menimbang zat. Dalam penimbangan yang pertama menimbang dahulu Kaca Arloji yang masih kosong atau belum diisi Zat. Kemudian setelah tampak berapa massa Kaca Arloji, maka Kembalokan ke posisi NOL. Kemudian baru Kaca Arloji diberi Zat dan ditimbang kembali untuk mengetahui massa Zat yang ditimbang.



BAB IV
HASIL PENGAMATAN

No
Nama Alat
Gambar
Fungsi
1.
Gelas Piala
Sebagai tempat untuk menyimpan dan meletakkan larutan. Gelas Piala memiliki takaran namun jarang bahkan tidak diperbolehkan untuk mengukur volume suatu zat cair.
2.
Erlemeyer
Sebagai wadah unuk mereaksikan suatu zat kimia dalam skala yang cukup besar dan sebagai wadah dalam proses titrasi.
3.
Labu Ukur
Untuk membuat,menyimpan dan mengencer-
kan larutan dengan ketelitian yang tinggi.
4.
Petridish
sebuah wadah untuk membiakkan sel atau mikroba.
5.
Gelas Ukur  
Untuk mengukur volume larutan..
6.
Kaca Arloji
Sebagai wadah untuk menimbang bahan-bahan kimia yang berupa padat,serbuk serta kristal

7.
Tabung Reaksi
 Sebagai wadah satu atau dua jenis zat
8.
Cawan Penguap

Digunakan sebagai wadah untuk mengeringkan suatu zat
9.
Mortal
Menghaluskan zat yang masing bersifat padat/kristal.
10.
Krush
Sebagai wadah untuk menentukan kadar abu.
11.
Pipet Tetes
Untuk meneteskan atau mengambil larutan dengan jumlah kecil dari suatu tempat ke tempat lain.
12.
Pipet Volum
Untuk menentukan volume larutan
13.
Pipet Gondok
Untuk mengukur volume larutan
14.
Batang Pengaduk
Untuk mengocok atau mengaduk suatu larutan.
15.
Sudip
Untuk mengambil bahan-bahan kimia dalam berupa padat atau bubuk.
16.
Corong Pisah
Untuk memisahkan larutan yang disebabakan ooleh massa jenisnya yang berbeda
17.
Desikator
Untuk menyimpan bahan-bahan yang harus bebas air dan mengeringkan zat-zat dalam laboratorium.
18.
Buret
Digunakan untuk titrasi, tapi pada keadaan tertentu dapat pula digunakan untuk mengukur volume suatu larutan.
19.
Corong
Corong digunakan untuk memasukan atau memindah larutan dari satu tempat ke tempat lain
20.
Rak Tabung Reaksi
Sebagai tempat tabung reaksi.

21.
Penjepit Tabung Reaksi
Untuk menjepit tabung reaksi.
22.
Statif dan Klem
Sebagai penjepit soklet pada proses ekstraksi dan sebagai penjepit buret dalam proses titrasi sekaligus untuk menjepit kondensor pada proses destilasi
23.
Sikat Tabung Reaksi
Untuk menyikat tabung reaksi
24.
Segitiga
Untuk menahan wadah, misalnya krush pada saat pemanasan ataau corong pada waktu penyaringan.
25.
Bola Hisap
Untuk menghisap larutan yang akan dari botol larutan.
26.
Lampu Spritus
Untuk membakar zat atau memanaskan larutan.
27.
Bunsen
Untuk memanaskan larutan dan dapat pula digunakan untuk sterilisasi dalam proses suatu proses.
28.
Kaki Tiga
Kaki tiga sebagai penyangga pembakar spirtus.
29.
Botol Semprot
digunakan untuk menyimpan aquades dan digunakan untuk mencuci ataupun membilas bahan-bahan yang tidak larut dalam air.
30.
Kawat Kasa
Sebagai alas atau untuk menahan labu atau beaker pada waktu pemanasan menggunakan pemanas spiritus atau pemanas bunsen
31.
Klem Utilitas
Alat untuk Penjepit dan penyangga tabung erlemeyer saat dipanaskan
32.
Oven
Untuk mengeringkan alat-alat sebelum digunakan dan digunakan untuk mengeringkan bahan yang dalam keadaan basah.
33.
Tanur
Digunakan sebagai pemanas pada suhu tinggi, sekitar 1000 °C.dan untuk menentukan kadar abu

34.
Hot Plate
Untuk memanaskan larutan. Biasanya untuk larutan yang mudah terbakar.
35
Timbangan Analitis
Tempat untuk menimbang zat-zat yang akan ditimbang dengan skala yang kecil.

BAB V
PEMBAHASAN

Alat-alat pemanasan terdiri atas pembakar gas, pembakar spiritus, pemanas mantel, kompor listrik, kaki tiga, kasa, gelas beker, tabung reaksi, labu didih, penjepit. Untuk alat-alat penimbangan terdiri atas labu ukur, labu erlemeyer, pipet gondok, gelas beker. Dan terakhir untuk alat titrasi terdiri atas statip, buret, labu erlenmeyer dan corong.
Terdapat dua kelompok alat-alat ukur yang digunakan pada analisa kuantitatif, yaitu: Alat-alat yang teliti (kuantitatif) dan alat-alat yang  tidak teliti (kualitatif). Untuk alat-alat yang teliti (kuantitatif) terdiri dari : buret, labu ukur, pipet. Sedangkan untuk alat-alat yang tidak teliti (kualitatif) terdiri dari gelas ukur, erlenmeyer, dan lainnya.

Beberapa peralatan laboratorium yang tergolong dalam peralatan gelas antara lain adalah sebagai berikut:
1.      Gelas piala atau yang sering disebut gelas bekker berfungsi sebagai tempat larutan dan dipakai juga pada saat pemanasan larutan dan penguapan pelarut untuk memekatkan.
2.      Gelas ukur digunakan untuk mengukur volume zat kimia dalam bentuk cair. Gelas ini berskala dan bermacam ukuran.
3.      Erlenmeyer adalah alat yang dipakai sebagai tempat zat – zat yang dititrasi dan dipakai juga untuk memanaskan larutan. Setelah cairan diisi ke erlenmeyer, erlenmeyer digoyang – goyangkan agar larutan tercampur sampai titik akhir tercapai.
4.      Pipet gondok sebagai alat pengambil larutan terbuat dari gelas dan bagian tengahnya membesar serta ujungnya meruncing. Pipet gondok dapat mengambil larutan tertentu dengan volume yang tepat. Pipet gondok mempunyai skala 25 ml dan batas tera menggunakan bola hisap.
5.      Buret adalah alat yang digunakan pada saat proses titrasi. Zat yang digunakan untuk menitrasi ditempatkan pada buret.Masih ada peralatan gelas lainnya seperti tabung reaksi. Sesuai dengan namanya, tabung reaksi digunakan untuk mereaksikan suatu zat. Tak hanya itu, di laboratorium juga terdapat botol semprot yang berfungsi untuk menyimpan aquadest.
6.      Kaca arloji. Alat yang terbuat dari kaca bening ini terdiri dari berbagai ukuran diameter. Kaca arloji berfungsi untuk mengeringkan padatan dalam desikator, sebagai tempat saat menimbang bahan kimia dan sebagai penutup gelas kimia saat memanaskan sampel.

Beberapa peralatan laboratorium yang tergolong dalam peralatan nongelas antara lain adalah sebagai berikut:
1.      Rak tabung reaksi terbuat dari kayu dengan lubang – lubang seukuran tabung reaksi berfungsi sebagai tempat meletakkan tabung reaksi. Cara menggunakannya yaitu letakkan tabung reaksi kedalam lubang – lubang yang ada dalam rak tabung reaksi.
2.      Kaki Tiga adalah Besi  penyangga ring berfungsi untuk menahan kawat kasa dalam  pemanasan. Cara menggunakannya yaitu diletakkan di antara Bunsen dan kawat kasa.
3.      Kawat Kasa yang dilapisi dengan asbes berfungsi sebagai alas dalam penyebaran panas yang berasal dari suatu pembatas. Letakkan kawat kasa di atas Bunsen  dengan disangga kaki tiga. Lalu diletakkan alat gelas yang terdapat larutan yang akan dipanaskan.
4.      Spatula berupa sendok panjang dengan ujung atasnya datar, terbuat dari stainless steel atau alumunium berfungsi untuk mengambil bahan kimia yang berbentuk padatan dan dipakai untuk mengaduk larutan.
5.      Bola Hisap Untuk menghisap larutan yang akan dari botol larutan. Untuk larutan selain air sebaiknya digunakan karet pengisat yang telah disambungkan pada pipet ukur.
6.      Oven Untuk mengeringkan alat-alat sebelum digunakan dan digunakan untuk mengeringkan bahan yang dalam keadaan basah.
7.      Hot Plate Untuk memanaskan larutan. Biasanya untuk larutan yang mudah terbakar.
8.      Timbangan analitis sebagai tempat untuk menimbang zat-zat yang akan ditimbang dalam skala kecil.
9.      Tanur Digunakan sebagai pemanas pada suhu tinggi, sekitar 1000 °C. dan untuk menentukan kadar abu.

Teknik-teknik dasar dalam laboratorium antara lain sebagai berikut:
1.      Penyaringan
Endapan atau zat yang tidak larut dapat dipisahkan dengan cara penyaringan dan untuk menyaring digunakan corong dan kertas saring corong dipasang pada tempat corong atau dengan klem statif.Di bawah corong diletakkan gelas kimia hingga ujung tangkai corong menyentuh dinding gelas.corong yang digunakan adalah corong bersudut 60 derajat.dan kertas saring yang digunakan berdiameter 9 atau 11 centimeter.
2.      Pengukuran Volume
Gelas ukur à digunakan untuk mengukur volume larutan dan memiliki skala millimeter(mL) yang dibaca dari 0 mL hingga sampai angka gelas ukur.
Pipet Volume à  mempunyai volume 1,2,5, dan 10 mL.hanya digunakan mengambil larutan yang sesuai volume pipet volume dan bola hisap digunakan sebagai alat bantu menyedot larutan ke dalam pipet.

Ada tiga jenis neraca,yaitu:
1.      Neraca palang tiga mempunyai ketelitian 0,1-0,01 gram.
2.      Neraca beban mempunyai ketelitian 0,01 gram -0,1 mgram
3.      Neraca analitis mempunyai ketelitian 0,001 gram-0,01 mgram.

Buret adalah sebuah peralatan gelas laboratorium berbentuk silinder yang memilki garis ukur dan sumbat keran pada bagian bawahnya.Buret digunakan untuk meneteskan sejumlah reagen cair dalam eksperimen yang melakukan presisi, seperti pada eksperimen titrasi.

Oleh karena presisi buret yang tinggi, kehati-hatian pengukuran volume dengan buret sangatlah penting untuk menghindari galat sistematik.ketika membaca buret,mata harus tegak lurus dengan permukaan cairan untuk menghindari galat paralaks.Kaidah yang umunnya digunakan adalh dengan menambahkan 0,02 mL jika bagian bawah meniscus menyentuh bagian bawah garis ukur.Oleh karena presisinya yang tinggi,satu tetes cairan yang menggantung pada ujung buret harus ditransfer ke labu penerima,biasanya dengan menyentuh tetesan itu ke sisi labu dan membilasnya ke dalam larutan dengan pelarut.

BAB VI
PENUTUP

1.1  Kesimpulan
1.      Setelah melakukan praktikum praktikan dapat mengetahui nama-nama dan fungsi alat-alat laboratorium.
2.      Setiap jenis zat kimia memiliki sifat-sifat yang berbeda, misalnya asam yang bersifat korosif tehadap benda di sekitarnya, selain itu zat kimia memiliki fungsi yang sama.
3.      Setelah melakukan praktikum praktikan dapat mengetahui cara penggunaan beberapa alat laboratorium, alat laboratorium memiliki fungsi dan cara penggunaan yang berbeda.

1.2  Saran
Untuk CO-ASS
     Sebaiknya penjelasan menggunakan bahasa yang sederhana dan dapat mudah dipahami oleh praktikan, karena dalam pengenalan ini haruslah sejelas-jelasnya, agar kemudian praktikan tidak bingung lagi dengan yang akan di praktikkan pada praktikum selanjutnya.

Untuk Praktikan
     Seharusnya praktikan mendengarkan dan memperhatikan penjelasan CO-ASS dengan seksama, karena jika praktikum pertama sudah tidak faham maka bagaimana akan melanjutkan pada praktikum selanjutnya. Dan juga bertanya langsung ke CO-ASS hal yang tidak difahami, agar tidak terjadi kesalahan pada praktikum.


DAFTAR PUSTAKA

Braddy, James E. 1994. Kimia Universitas Edisi Kelima. Jakarta: Erlangga.
Laboratorium Teknologi Industri Pertanian. 2016. Buku penuntun praktikum kimia 2016. Bengkulu: Universitas Negeri Bengkulu.
Mardani, 2007. Intisari Kimia Farmasi Edisi Kedua. Jakarta: Kedokteran EGC.
Moningka. 2008. Kimia Universitas Edisi Kelima. Jakarta: Erlangga.
Ramli. 2002 . Analisis Kimia Kualitatif. Jakarta: Erlangga.
Riadi. 1990. Pemilihan Uji Laboratorium yang Efektif : Choosing Effective Laboratory Tests. Jakarta: Kedokteran EGC.
Subroto, J. 2000. Buku Pintar Alat Laboratorium. Solo: Aneka.
Syukri, S. 1999. Kimia Dasar Jilid I. Bandung: ITB.

2 comments:

  1. Gambar alatnya kok nggak ada kak?

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya, karna harus upload gambarnya 1 per 1, jadi cari aja di google aja gambarnya.

      Delete

Mohon untuk menggunakan kata yang tidak menyinggung unsur SARA. Dan juga tidak menggunakan unsur Phornography. Terima kasih telah mengikuti aturan dalam website ini.

Terima Kasih
Dwi Sulistiyo

@sulistiyo_27