LAPORAN PRAKTIKUM: TITRASI ASAM BASA - Dwi Sulistiyo

Monday, October 15, 2018

LAPORAN PRAKTIKUM: TITRASI ASAM BASA

LAPORAN PRAKTIKUM KIMIA UMUM



   

Disusun Oleh:
Nama                 : Dwi Sulistiyo
NPM                  : E1C016061
Prodi                  : Peternakan
Kelompok          : V(lima)
Hari/Jam            : Selasa/14:00-15:40
Tanggal              : 1 November 2016
Dosen                : 1.  Drs. Syafnil, M.Si
                             2.  Dra. Devi Silsia, M.Si
Ko-Ass              : 1.  Andi Kardo Samosir / E1G012034
                             2.  Andika Putra / E1G013034
Objek Praktikum           : TITRASI ASAM-BASA


LABORATORIUM TEKNOLOGI PERTANIAN
FAKULTAS PERTANIAN
UNIVERSITAS BENGKULU
2 0 1 6


BAB I
PENDAHULUAN

1.1  Latar Belakang
Analisa volumetrik adalah suatu cara menentukan jumlah (kuantitatif) suatu zat. Analisa ini tergantung pada pengukuran volume yang tepat dari dua macam larutan yang bereaksi sempurna. salah satu larutan harus di ketahui konsentrasi nya, larutan ini di sebut larutan standar sedangkan larutan yang lain akan di tentukan konsentrasinya oleh larutan standar. Proses penentuan konsentrasi ini di sebut titrasi.
Dalam proses titrasi suatu larutan di tambahkan sedikit demi sedikit pada larutan yang volumenya telah diketahui, sampai tercapai titik ekivalen, yaitu jumlah stoikhiometri (perbandingan mol) dari kedua pereaksi.  Titik akhir titrasi/reaksi di ketahui ketika indikator yang di gunakan tepat mengalami perubahan warna.
Salah satu aplikasi stoikiometri larutan adalah titrasi. Titrasi merupakan suatu metode yang bertujuan untuk menentukan banyaknya suatu larutan dengan konsentrasi yang telah diketahui agar tepat habis bereaksi dengan sejumlah larutan yang dianalisis atau ingin diketahui kadarnya atau konsentrasinya. Suatu zat yang akan ditentukan konsentrasinya disebut sebagai “titran” dan biasanya diletakkan di dalam labu Erlenmeyer, sedangkan zat yang telah diketahui konsentrasinya disebut sebagai “titer” atau “titrat”  dan biasanya diletakkan di dalam “buret”. Baik titer maupun titran biasanya berupa larutan.
Titrasi biasanya dibedakan berdasarkan jenis reaksi yang terlibat di dalam proses titrasi, sebagai contoh bila melibatkan reaksi asam basa maka disebut sebagai titrasi asam basa atau aside alkalimetri, titrasi redox untuk titrasi yang melibatkan reaksi reduksi oksidasi, titrasi kompleksometri untuk titrasi yang melibatkan pembentukan reaksi kompleks dan lain sebagainya.

1.2  Tujuan
1.      Mahasiswa mampu menerapkan teknik titrasi untuk menganalisis contoh yang mengandung asam.
2.      Mahasiswa mampu menstandarisasi larutan.


BAB II
TINJAUAN PUSTAKA


Gambar set alat titrasi

Standarisasi dapat dilakukan dengan titrasi. Titrasi merupakan proses penentuan konsentrasi suatu larutan dengan mereaksikan larutan yang sudah ditentukan konsentrasinya (larutan standar). Titrasi asam basa adalah suatu titrasi dengan menggunakan reaksi asam basa (reaksi penetralan). Prosedur analisis pada titrasi asam basa ini adalah dengan titrasi volumemetri, yaitu mengukur volume dari suatu asam atau basa yang bereaksi (Syukri, 1999).
Titrasi asam basa melibatkan asam maupun basa sebagai titer ataupun titrant. Kadar larutan asam ditentukan dengan menggunakan larutan basa atau sebaliknya. Titrant ditambahkan titer tetes demi tetes sampai mencapai keadaan ekuivalen ( artinya secara stoikiometri titrant dan titer tepat habis bereaksi) yang biasanya ditandai dengan berubahnya warna indikator. Keadaan ini disebut sebagai “titik ekuivalen”, yaitu titik dimana konsentrasi asam sama dengan konsentrasi basa atau titik dimana jumlah basa yang ditambahkan sama dengan jumlah asam yang dinetralkan : [H+] = [OH-]. Sedangkan keadaan dimana titrasi dihentikan dengan cara melihat perubahan warna indikator disebut sebagai “titik akhir titrasi”. Titik akhir titrasi ini mendekati titik ekuivalen, tapi biasanya titik akhir titrasi melewati titik ekuivalen. Oleh karena itu, titik akhir titrasi sering disebut juga sebagai titik ekuivalen. (Adi Gunawan : 2004).
Proses penentuan konsentrasi suatu larutan dipastikan dengan tepat dikenal sebagai standarisasi. Suatu larutan standar kadang-kadang dapat disiapkan dengan menggunakan suatu sampel zat terlarut yang diinginkan, yang ditimbang dengan tepat, dalam volume larutan yang diukur dengan tepat. Zat yang memadai dalam hal ini hanya sedikit, disebut standar primer (Day, 1998).
Pada saat titik ekuivalen ini maka proses titrasi dihentikan, kemudian catat volume titer yang diperlukan untuk mencapai keadaan tersebut. Dengan menggunakan data volume titran, volume dan  konsentrasi titer maka bisa dihitung konsentrasi titran tersebut (Umi L Baroroh :2004 ).
Dalam analisis kuantitatif, indikator digunakan untuk menentukan titik ekuivalen dari titrasi asam-basa. Karena indikator mempunyai interval pH yang berbeda-beda dan karena titik ekuivalen dari titrasi asam-basa berubah-ubah sesuai dengan kekuatan relatif asam basanya, maka pemilihan indikator merupakan hal terpenting. Titrasi merupakan suatu metode untuk menentukan kadar suatu zat dengan menggunakan zat lain yang sudah diketahui konsentrasinya. Titrasi asam-basa adalah titrasi yang yang melibatkan asam maupun basa sebagai titer (zat yang telah diketahui konsentrasinya) maupun titrant (zat yang akan ditentukan kadarnya) dan berdasarkan reaksi penetralan asam-basa. Kadar larutan asam ditentukan dengan menggunakan larutan basa yang telah diketahui kadarnya, dan sebaliknya, kadar larutan basa dapat diketahui dengan menggunakan larutan asam yang diketahui kadarnya. Titik ekivalen yaitu pH pada saat asam dan basa (titrant dan titer) tepat ekivalen atau secara stoikiometri tepat habis bereaksi. Titik ekuivalen titrasi ini dapat dicapai setelah penambahan 100 ml basa, pada saat ini pH larutan besarnya 7. Titik ekuivalen ini disebut titik akhir teoritis. Problemnya sekarang adalah kita inngin menetapkan titik akhir ini dengan pertolongan indikator. Titik akhir yang dinyatakan oleh indikator disebut titik akhir titrasi. Indikator yang dipakai harus dipilih agar titik akhir titrasi dan teoritis berhimpit atau sangat berdekatan. Untuk itu harus dipilih indikator yang memiliki trayek perubahan warnanya di sekitar titik akhir teoritis. (Sukardjo, 1984).
Perhitungan-perhitungan stokiometri yang melibatkan larutaan yang diketahui molaritasnya bahkan lebih sederhana lagi. Dengan devinisi bobot ekuivalen, dua larutan akan bereaksi dengan tepat satu sama lain bila keduanya mengandung gram ekuivalen yang sama. Dalam hubungan ini, kedua normalitas harus dinyatakan dengan satuan yang sama, demikian juga kedua volume (Brady, 1990).
Ada dua cara umum untuk menentukan titik ekuivalen pada titrasi asam basa, antara lain:
1.      Memakai pH meter untuk memonitor perubahan pH selama titrasi dilakukan, kemudian membuat plot antara pH dengan volume titran untuk memperoleh kurva titrasi. Titik tengah dari kurva titrasi tersebut adalah “titik ekuivalen”.
2.      Memakai indikator asam basa. Indikator ditambahkan dua hingga tiga tetes (sedikit mungkin) pada titran sebelum proses titrasi dilakukan. Indikator ini akan berubah warna ketika titik ekuivalen terjadi, pada saat inilah titrasi dihentikan. Indikator yang dipakai dalam titrasi asam basa adalah indikator yang perubahan warnanya dipengaruhi oleh pH.
Pada umumnya cara kedua lebih dipilih karena kemudahan dalam pengamatan, tidak diperlukan alat tambahan, dan sangat praktis, walaupun tidak seakurat dengan pH meter. Gambar berikut merupakan perubahan warna yang terjadi jika menggunakan indikator fenolftalein.  (J.E. Bredy : 1999).
Istilah analisis titrametri mengacu pada analisis kimia kuantitatif yang dilakukan dengan menetapkan volume suatu larutan yang konsentrasinya diketahui dengan tepat, yang diperlukan untuk bereaksi secara kuantitatif dengan larutan zat yang akan ditetapkan. Larutan dengan kekuatan (konsentrasi) yang diketahui tepat itu, disebut larutan standar. Bobot zat yang hendak ditetapkan, dihitung dari volume standar yang digunakan dan hukum-hukum stokiometri yang diketahui. Dahulu digunakan orang analisis volumetri, tetapi sekarang telah diganti dengan analisiss titrimetri, karena yang terakhir ini dianggap lebih baik menyatakan proses titrasi, sedangkan yang disebut terdahulu dapat dikacaukan dengan pengukuran-pengukuran volume, seperti yang melibatkan gas-gas. Reagensia dengan konsentrasi yang diketahui itu disebut titran, dan zat yang sedang dititrasi disebut titrat (Basset, 1994).
Analisis kimiawi menetapkan komposisi kuantitatif dan kualitatif suatu materi. Konstituen-konstituen yang akan didereksi ataupun ditentukan jumlahnya adalah unsur, rasikal, gugus fungsi, senyawaan atau fase. Analisis kimia menyangkut aspek analisis yang lebih sempit. Analisis pada umumnya terdiri atas analisis kualitatif dilakukan sebelum analisis kuantitatif.  Tahapan penentuan analisis kuantitatif adalah dengan usaha mendapatkan  sampel, mengubahnya menjadi keadaan yang dapat terukur, pengukuran konstituen yang dikehendaki, dan yang terakhir perhitungan dan interprestasi data numerik (Khopkar, 1990).




                                                                      
     
Sebelum mencapai titik ekuivalen                                 Setelah mencapai titik ekuivalen

Indikator yang dipakai dalam titrasi asam basa adalah indicator yang perubahan warnanya dipengaruhi oleh pH. Penambahan indicator diusahakan sesedikit mungkin dan umumnya adalah dua hingga tiga tetes.
Untuk memperoleh ketepatan hasil titrasi maka titik akhir titrasi dipilih sedekat mungkin dengan titik equivalen, hal ini dapat dilakukan dengan memilih indicator yang tepat dan sesuai dengan titrasi yang akan dilakukan. Keadaan dimana titrasi dihentikan dengan cara melihat perubahan warna indicator disebut sebagai “titik akhir titrasi”. ( Adi Gunawan : 2004)
Pada saat titik ekuivalen maka mol-ekuivalent asam akan sama dengan mol-ekuivalent basa, maka hal ini dapat kita tulis sebagai berikut:
mol-ekuivalen asam = mol-ekuivalen basa
Mol-ekuivalen diperoleh dari hasil perkalian antara Normalitas dengan volume maka rumus diatas dapat kita tulis sebagai:
NxV asam = NxV basa
Normalitas diperoleh dari hasil perkalian antara molaritas (M) dengan jumlah ion H+ pada asam atau jumlah ion OH pada basa, sehingga rumus diatas menjadi:
nxMxV asam = nxVxM basa

keterangan :
N = Normalitas
V = Volume
M = Molaritas
n  = jumlah ion H+ (pada asam)
atau OH – (pada basa)

Indikator yang sering digunakan dalam titrasi asam basa yaitu indikator fenolftalein.  Tabel berikut ini merupakan karakteristik dari indikator fenolftalein.
Ph
< 0
0−8.2
8.2−12.0
>12.0
Kondisi
Sangat asam
Asam atau mendekati netral
Basa
Sangat basa
Warna
Jingga
Tidak berwarna
pink keunguan
Tidak berwarna
Gambar




BAB III
METODOLOGI

3.1  Alat dan Bahan
Alat dan bahan yang digunakan dalam praktikum kali ini adalah :


1.      Indikator  pnolphetalein
2.      Erlenmayer
3.      Buret 50 ml
4.      Statif dan klem
5.      Gelas ukur 25 ml atau 10 ml
6.      Corong kaca
7.      NaOH 0,1 M
8.      HCl 0,1 M
9.      H2C2O4


                                                                             
3.2  Prosedur Kerja
3.2.1        Standarisasi larutan NaOH 0,1 M
Mencuci  bersih buret yang akan digunakan untuk standarisasi dan membilas dengan 5 ml larutan NaOH. Memutar  kran buret untuk mengeluarkan cairan yang tersisa dalam buret, selanjutnya mengisi buret dengan 5 ml NaOH untuk membasahi dinding buret. Kemudian larutan di keluarkan lagi dari buret. Memasukan lagi larutan NaOH kedalam buret sampai skala tertentu. Mencatat kedudukan volume awal NaOH dalam buret.
Proses standarisasi :
1.      Mencuci 3 erlenmeyer, memipetkan 10 ml larutan asam oksalat 0,1 M dan memasukkan kedalam setiap erlenmeyer dan menambahkan kedalam masing-masing erlenmeyer 3 tetes indikator penolphetelein (pp).
2.      Mengalirkan larutan NaOH yang ada dalam buret sedikit demi sedikit sampai terlihat warna merah muda yang tidak hilang apabila menggoyangkan gelas erlenmeyer.
3.      Mencatat volume NaOH yang terpakai.
4.      Mengulangi dengan cara yang sama untuk erlenmeyer ke II dan III.
5.      Menghitung molaritas (M) NaOH.



3.2.2        Penentuan konsentrasi HCl
1.      Mencuci 3 erlenmeyer, memipetkan 10 ml larutan HCl 0,1 M dan memasukan kedalam setiap erlenmeyer.
2.      Menambahkan kedalam masing-masing erlenmeyer 3 tetes indikator penolphetelein (pp).
3.      Mengalirkan larutan NaOH yang ada dalam buret sedikit demi sedikit sampai terbentuk warna merah muda yang tidak hilang apabila menggoyangkan gelas erlenmeyer.
4.      Mencatat volume NaOH yang terpakai.
5.      Mengulangi dengan cara yang sama untuk erlenmeyer ke II dan ke III.
6.      Menghitung molaritas (M) HCl.


BAB IV
HASIL PENGAMATAN

4.1 Hasil Percobaan
Standarisasi NaOH dengan larutan asam oksalat

No

Prosedur
Ulangan

Rata-Rata
I
II
III
1
Volume larutan asam oksalat 0,1 M
10 ml
10 ml
10 ml
10 ml
2
Volume NaOH terpakai
20 ml
20,5 ml
22 ml
20,83 ml
3
Molaritas (M) NaOH
0,05
0,048
0,045
0,047

*Dalam literatur atau titrasi yang sudah umum dilakukan , Volume NaOH terpakai untuk titrasi asam basa dalam standarisasi larutan NaOH dengan larutan H2C2O4 ialah 7-16 mL.

Standarisasi HCl dengan larutan NaOH
No
Prosedur
Ulangan
Rata-Rata
I
II
III
1
Volume larutan HCl
10 ml
10 ml
10 ml
10 ml
2
Volume NaOH terpakai
10,5 ml
10,4 ml
10,6 ml
10,5 ml
3
Molaritas (M) NaOH
Berdasarkan hasil percobaan di atas
0,047 M
4
Molaritas (M) larutan HCl

0,095 M

*Dalam literatur atau titrasi yang sudah umum dilakukan , Volume NaOH terpakai untuk titrasi asam basa dalam standarisasi larutan NaOH dengan larutan HCl ialah 9-10mL.



4.2  Cara Menghitung
4.2.1        Standarisasi larutan NaOH dengan larutan asam oksalat
Mencari molaritas NaOH
Ulangan 1         M NaOH x V NaOH   = M H2C2O4 x V H2C2O4
M NaOH x 20 ml        =  0,1 x 10 ml
M NaOH x 20             = 1
M NaOH                     = 1/20
=  0,05 M
Ulangan 2         M NaOH x V NaOH   = M H2C2O4 x V H2C2O4
M NaOH x 20,5 ml     =  0,1 x 10 ml
M NaOH x 20,5                      = 1
M NaOH                     = 1/20,5
=  0,048 M
Ulangan 3         M NaOH x V NaOH   = M H2C2O4 x V H2C2O4
M NaOH x 22 ml        =  0,1 x 10 ml
M NaOH x 22             = 1
M NaOH                     = 1/22
=  0,045 M


4.2.2        Standarisasi NaOH dalam HCl
Mencari molaritas HCl
Ulangan 1        V1 x M1  = V2 x M2
10     0,1   = 10,5 x M2
1             = 10,5 M2
M2          = 1/10,5
M2             = 0,095 M



Ulangan 2    V1 x M1     = V2 x M2
10     0,1   = 10,4 x M2
1             = 10,4 M2
M2          = 1/10,4
M2             = 0,096 M
Ulangan 3     V1 x M1    = V2 x M2
10     0,1   = 10,6 x M2
1             = 10,6 M2
M2          = 1/10,6
M2             = 0,094 M




BAB V
PEMBAHASAN

Dalam praktikum ini, volume NaOH yang terpakai pada percobaan standarisasi NaOH dengan larutan asam oksalat memiliki perbedaan yang cukup signifikan. Pada titrase yang sudah umum yaitu memerlukan 7-16 ml, sedangkan pada praktikum ini memerlukan NaOH pada percobaan 1 adalah 20 ml, pada percobaan 2 adalah 20,5 ml, sedangkan pada percobaan 3 adalah 22 ml. perbedaan ini  terjadi karena di sebab kan oleh berbagai macam sebab antara lain:
a.       Ketidaksterilan pada alat-alat dan bahan.
b.      Menggoyangkan erlemeyernya tidak pada aturan.
c.       Jumlah larutan yang berbeda dengan ketentuan
Sehingga pada hasil akhir tidak sama dengan yang diharapkan. Pada titrasi ini hasil yang diharapkan adalah 0,1 M, sedangkan hasil kami adalah 0,047 M.

Sedangkan pada percobaan standarisasi HCl dengan larutan NaOH, volume NaOH yang terpakai untuk menstandarisasi HCl memiliki selisih yang tidak terlalu jauh berbeda, yaitu berkisar antara 0,1-0,3 ml saja. Pada percobaan yang umum, ml NaOH yang terpakai adalah 9-10 ml. Tetapi yang kami dapat adalah 10,5, 10,4, 10,6. Karena beda antara literatur dan hasil yang kami dapat tidak terlatu jauh yaitu 0,6 ml. Maka dapat disimpulkan bahwa praktik ini sudah mencapai target.



BAB VI
PENUTUP

5.1  Kesimpulan
1.      Titrasi merupakan suatu metode yang bertujuan untuk menentukan banyaknya suatu larutan dengan konsentrasi yang telah diketahui agar tepat habis bereaksi dengan sejumlah larutan yang dianalisis atau ingin diketahui kadarnya atau konsentrasinya. Dari percobaaan yang telah dilakukan, kita dapat mengetahui dan menerapkan teknik tirasi yang benar untuk menganalisis contoh yang mengandung asam.
2.      Dengan menggunakan teknik titrasi yang benar, kita dapat menstandarisasi larutan yang di uji. Pada percobaan yang dilakukan, larutan yang distandarisasi yaitu larutan NaOH dan HCl.

5.2  Saran
Sebaiknya dalam melakukan percobaan tentang titrasi asam basa harus  di perhatikan sungguh-sungguh saat ko ass menjelaskan tentang cara melakukan percobaan tersebut, sehingga tidak terjadi kesalahan serta alat yang akan digunakan dalam percobaan ini harus dikeringkan terlebih dahulu, sebab jika tidak maka akan mempengaruhi konsentrasi dari suatu larutan.



JAWABAN PERTANYAAN

Ø  Pertanyaan
1.         Bagaimana caranya agar titik akhir titrasi mendekati titik ekivalen ?
2.         Jelaskan dengan singkat fungsi indikator ?
3.         Jelaskan apakah reaksi dapat berlangsung jika tidak ditambahkan indikator ?
4.         Tuliskan dengan lengkap reaksi yang terjadi pada reaksi diatas ?
5.         Jelaskan pengertian larutan standar primer dan sekunder ?
6.         Tuliskan syarat- syarat suatu indikator dapat dipakai dalam suatu titrasi?

Ø  Jawaban Pertanyaan
1.         Dengan cara pemilihan indikator yang tepat , karena indikator yang tepat dapat membuat titik titrasi mendekati titik ekivaken .
2.          Untuk mengetahui titik titrasi.
3.         Bisa , tetapi jika tanpa indikator sangat sulit bagi kita menentukan titik titrasi.
4.         a. 2NaOH + H2C2O4 à Na2C2O4 + 2H2O
b. HCl + NaOH à NaCl + H2O

5.         Larutan primer ialah larutan yang telah diketahui konsentrasinya, dalam proses ini larutan primer tak perlu distandarisasi dengan larutan lain untuk memastikan konsentrasi lain sebenarnya.
Larutan Sekunder ialah larutan ynag dipergunakan untuk menstandarisasi konsentrasi lain tetapi larutan standar tersebut harus distandarisasi terlebih dahulu untuk mengetahui konsentrasi sebenarnya.
6.      -Indikatornya tepat
               -Dapat timbul perubahan warna
               -Indikator dengan rentang indikator yang sempit.



DAFTAR PUSTAKA

Baroroh, Umi L. U. 2004. Diktat Kimia Dasar I.Banjarbaru.Universitas Lambung Mangkurat
Brady, J. E. 1999. Kimia Universitas Asas dan Struktur.Jakarta.Binarupa Aksara
Gunawan, Adi dan Roeswati. 2004. Tangkas Kimia.Surabaya.Kartika.
Khopkar, S. M. 1990. Konsep Dasar Kimia Analitik.Jakarta.Universitas Indonesia
Sukardjo, 1984. Kimia Organik.  Jakarta ; Rineka Cipta.

Klik dibawah ini untuk melihat versi dokument nya:
http://safelinku.net/titrasiasambasa

No comments:

Mohon untuk menggunakan kata yang tidak menyinggung unsur SARA. Dan juga tidak menggunakan unsur Phornography. Terima kasih telah mengikuti aturan dalam website ini.

Terima Kasih
Dwi Sulistiyo

@sulistiyo_27