LAPORAN PRAKTIKUM: ANALISIS KUALITAS AIR - Dwi Sulistiyo

Wednesday, November 14, 2018

LAPORAN PRAKTIKUM: ANALISIS KUALITAS AIR

LAPORAN PRAKTIKUM KIMIA UMUM




Disusun Oleh:
Nama                 : Dwi Sulistiyo
NPM                  : E1C016061
Prodi                  : Peternakan
Kelompok          : V(lima)
Hari/Jam            : Selasa/14:00-15:40
Tanggal              : 22 November 2016
Dosen                : 1.  Drs. Syafnil, M.Si
                             2.  Dra. Devi Silsia, M.Si
Ko-Ass              : 1.  Andi Kardo Samosir / E1G012034
                             2.  Andika Putra / E1G013034
Objek Praktikum           : ANALISA KUALITAS AIR

LABORATORIUM TEKNOLOGI PERTANIAN
FAKULTAS PERTANIAN
UNIVERSITAS BENGKULU
2 0 1 6


BAB I
PENDAHULUAN

I.1 Latar Belakang
Air merupakan kebutuhan yang sangat penting dan tidak bisa diganti perannya bagi makhluk hidup. Kualitas air merupakan penentu kelangsungan kehidupan makhluk hidup kedepannya, khususnya manusia.
Air yang dijumpai dalam kehidupan sehari-hari tidak pernah ditemukan dalam keadaan murni. Biasanya air tersebut mengandung zat-zat kimia dalam kadar tertentu, baik zat-zat kimia anorganik maupun zat-zat kimia organik.
Apabila kandungan zat-zat kimia tersebut terlalu banyak jumlahnya didalam air, air tersebut dapat menjadi sumber bencana yang dapat merugikan kelangsungan hidup semua makhluk sekitarnya. Kini dengan adanya pencemaran-pencemaran air oleh pabrik maupun rumah tangga, kandungan zat-zat kimia di dalam air semakin meningkat dan pada akhirnya kualitas air tersebut menurun. Oleh karena itu, diperlukan analisa air untuk menentukan dan menghitung zat-zat kimia yang terkandung di dalam air sehingga dapat diketahui air tersebut membahayakan kesehatan, layak tidaknya dikonsumsi maupun sudah tercemar atau belum.

I.2 Tujuan
1.      Mahasiswa mampu menguji atau menganalisis beberapa sifat fisis dan kimia air secara kualitatif dan kuantitatif.



BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
                                                                                          
Didalam manajemen kualitas air merupakan suatu upaya memanipulasi kondisi lingkungan sehingga mereka berada dalam kisaran yang sesuai untuk kehidupan dan pertumbuhan ikan. Di dalam usaha perikanan, diperlukan untuk mencegah aktivitas manusia yang mempunyai pengaruh merugikan terhadap kualitas air dan produksi ikan (Widjanarko, 2005).
Pengukuran kualitas air dapat dilakukan dengan dua cara, yang pertama adalah pengukuran kualitas air dengan parameter fisika dan kimia (suhu, O2 terlarut, CO2 bebas, pH, konduktivitas, kecerahan, alkalinitas ), sedangkan yang kedua adalah pengukuran kualitas air dengan parameter biologi (plankton dan benthos) (Sihotang, 2006).
Dalam pengukuran kualitas air secara umum, menggunakan metode purposive sampling, yaitu pengambilan sampel dilakukan dengaan memperhatikan berbagai pertimbangan kondisi serta keadaan daerah pengamatan (Fajri, 2013).
Air untuk minum umumnya berasal dari Air Permukaan (Surface Water) seperti danau, sungai dan cadangan air lainnya di permukaan Bumi atau dari Air Tanah (Ground Water) atau air yang di pompa (melalui pengeboran) dari dalam tanah yang umumnya bebas dari kandungan zat berbahaya, namun tidak selalu bersih (Krisnandi, 2009).
Suhu air merupakan faktor yang banyak mendapatkan perhatian dalam pengkajian-pengkajian. Data suhu air dapat dimanfaatkan bukan saja hanya untuk mempelajari gejala-gejala fisika dalam laut tetapi juga dalam kaitannya dengan kehidupan hewan atau tumbuhan, bahkan dapat juaga dimanfaatkan untuk mengkaji metodologi (Nontji, 1989).
Air yang baik idealnya tidak berbau, tidak berwarna, tidak memiliki rasa/ tawar dan suhu untuk air minum idealnya ±30 C. Padatan terlarut total (TDS) dengan bahan terlarut diameter <10 sup="">-6
 dan koloid (diameter 10-6-10-3 mm) yang berupa senyawa kimia dan bahan-bahan lain (Effendi, 2003).
Sebuah current meter yang ideal harus memiliki respon yang cepat dan konsisten dengan setiap perubahan yang terjadi pada kecerahan air dan harus secara akurat dan terpercaya sesuai dengan komponen velositas. juga harus tahan lama, mudah dilakukan pemeliharaan dan simple digunakan dengan kondisi lingkungan yang berbeda, indicator kinerja tergantung pada intertid dan roter, gerakan air dan gesekan dalam bearing.
Dalam pengukuran kualitas air secara umum, menggunakan metode purposive sampling, yaitu pengambilan sampel dilakukan dengaan memperhatikan berbagai pertimbangan kondisi serta keadaan daerah pengamatan (Fajri, 2013).
Kecerahan yang tinggi dapat mengakibatkan terganggunya sistem osmoregulasi, misal pernafasan dan daya lihat organism akuatik serta dapat menghambat penetrasi cahaya kedalaman air, tingginya nilai kekeruhan juga dapat mempersulit usaha penyaringan dan mengurangi efektifitas disentasi pada proses penjernihan (Effendi, 2008).




BAB III
METODOLOGI

3.1 Alat dan Bahan
Alat yang digunakan


1.      Gelas ukur 50 ml                 
2.      Gelas ukur 100 ml
3.      Gelas ukur 50 ml
4.      Pipet tetes
5.      Pipet volume 5 ml
6.      Pipet volume 10 ml
7.      Lampu spritus
8.      Tabung reaksi + rak
9.      Batang pengaduk
10.  Corong kaca
11.  Penjepit tabung reaksi
12.  Erlenmeyer
13.  Buret dan statif
14.  Corong
15.  Neraca Analitik
16.  Botol semprot
17.  Termometer


Bahan yang digunakan


1.      KMnO4
2.      Aquades
3.      H2SO4
4.      Kertas lakmus merah
5.      Asam oksalat (H2C2O4)




3.2 Cara Kerja
1. Suhu / temperature
1.      Menyiapkan sampel (membuka tutup botol sempel)
2.      Menyelupkan alat pengukur suhu (thermometer atau O2 meter) ke dalam sampel, pastikan tangan anda tidak bersentuhan dengan alat pengukur tersebut.
3.      Membaca angka yang tertera pada alat tersebut.
2.      Zat padat terlarut dan zat padat tersuspensi
1.      Mengambil sampel sebanyak 100 ml dengan gelas ukur dan menuangkannya kedalam gelas piala dan memanaskannya.
2.      Memperhatikan, apakah sampel menjadi keruh ataukah ada yang mengendap.
3.      Jika sampel menjadi keruh berarti ada zat padat terlarut, sadangkan jika terjadi endapan berarti sampel mengandung zat tersuspensi.
3.      Warna
1.      Mengambil sampel kedalam tabung reaksi sebanyak ± ¾ dari volume tabung reaksi
2.      Membandingkan warnanya dengan larutan standar yang telah disediakan.
4.      Amoniak
1.      Memasukkan 10-15 ml sampel kedalam tabung reaksi
2.      Melipat kertas lakmus merah di mulut tabung reaksi
3.      Memanaskan di atas api lampu spiritus
4.      Mengamati sampel, apakah tercium bau tengik atau tidak.
5.      Sampel mengandung amoniak apabila tercium bau tengik atau lakmus merah berubah menjadi warna biru.



BAB IV
HASIL PENGAMATAN
IV.1 HASIL
NO
Parameter

Hasil Pengamatan

Air sumur

Air Sabun
Air Laut
Air Danau
Limbah Tahu
1
Suhu

23 0C
30 0C
30 0C
31 0C
31 0C
3
Warna

Bening tanpa endapan
Agak kekuning/agak keruh
Berubah menjadi jernih
Berubah menjadi jernih
Dari Keruh menjadi jernih
4
Zat padat terlarut
Tidak ada
Tidak ada
Tidak ada
Tidak ada
Tidak ada
5
Zat padat tersuspensi
Tidak ada
Ada
Tidak ada
Tidak ada
Ada
6
pH
6
9
7
6
5
6
Amoniak
-

-
-
-
-


BAB V
PEMBAHASAN
Suhu air
          Suhu menunjukkan derajat panas benda. Mudahnya, semakin tinggi suhu suatu benda, semakin panas benda tersebut. Secara mikroskopis, suhu menunjukkan energi yang dimiliki oleh suatu benda.  Dari Parameter suhu sampel air mineral suhunya cenderung agak sedikit lebih rendah dibandingkan suhu air danau, air limbah, dan juga air suling yaitu 24o C sedangkan suhu air danau 29o C, air limbah 31o C, dan juga air suling 28o C. Dari berbagai suhu air tersebut yang dapat dikonsumsi yaitu air danau, air mineral, dan air suling karena suhu yang di teliti tidak jauh berbeda dengan suhu normal air terhadap lingkungan yaitu ± 3o C.
Warna
Warna menggambarkan tingkat kejernihan air untuk dapat menerima cahaya dari sinar matahari. Pada air sumur warna nya jernih, air sawah warnanya keruh, air danau warnanya agak keruh, air air rawa agak keruh. Perbedaan warna ini disebabkan karena  banyak organisme yang hidup di air yang sawah dan danau sehingga menyebabkan warna air menjadi keruh.
Amonia
Amonia merupakan senyawa yang terdiri atas unsur nitrogen dan hidrogen serta dikenal memiliki bau menyengat yang khas. Molekul amonia terbentuk dari ion nitrogen bermuatan negatif dan tiga ion hidrogen bermuatan positif dengan rumus kimia NH3. Amonia dapat terjadi secara alami atau diproduksi secara sintetis.. Produksi amonia buatan melibatkan serangkaian proses kimia untuk menggabungkan ion nitrogen dan hidrogen.
Zat padat tersuspensi
Zat padat tersuspensi diklasifikasikan menjadi zat padat terapung yang selalu bersifat organisme dan zat padat yang dapat terendap yang bersifat organic dan anorganik. Zat padat terendap adalah zat padat dalam suspensi yang dalam keadaan tenang dapat mengendap setelah waktu tertentu karena pengaruh gaya beratnya.


BAB VI
PENUTUP
6.1. Kesimpulan
          Air merupakan senyawa yang bersifat pelarut universal, karena sifatnya tersebut, maka tidak ada air dan perairan alami yang murni. Tetapi didalamnya terdapat unsur dan senyawa yang lain. Dengan terlarutnya unsur dan senyawa tersebut, terutama hara mineral, maka air merupakan faktor ekologi bagi makhluk hidup. Walaupun demikian ternyata tidak semua air dapat secara langsung digunakan memenuhi kebutuhan makhluk hidup, tetapi harus memenuhi kriteria dalam setiap parameternya masing-masing. Analisa Umum pada Air merupakan salah satu kebutuhan dasar manusia, khususnya air minum Tetapi ketersediaan air minum yang memenuhi syarat semakin sulit dipenuhi, terlebih lagi daerah-daerah resapan air yang telah dirubah menjadi pemukiman penduduk, limbah-limbah industri yang mencemari sungai-sungai. Air yang baik idealnya tidak berbau, tidak berwarna, tidak memiliki rasa/ tawar dan suhu untuk air minum idealnya ±30 C. Air Keran termasuk air jernih sedangkan air sawah bukan air jernih. Air Keran tidak memiliki zat padat terlarut dan zat padat tersuspensi,Sedangkan Air Sawah sedikit memiliki zat padat terlarut dan zat padat tersuspensi. Amonium ( NH3) terdapat pada air sawah sedangkan pada air keran tidak ada. Oksigen terlarut (DO/Disolve Oxygen) merupakan salah satu parameter penting dalam penentuan kualitas air. Oksigen terlarut akan langsung berpengaruh pada kemampuan organisme untuk bertahan di perairan tercemar. COD (Chemical Oxygen Demand) adalah banyak-nya oksigen yang dibutuhkan untuk mengoksidasi zat organik secara kimia dalam tiap liter air pada kondisi tertentu.
6.2 Saran
       Untuk CO-ASS
     Seharusnya, seluruh CO-ASS ikut serta ataupun aktif ketika melaksanakan praktikum.
Untuk Praktikan
     Sebaiknya sebelum pelaksanaan praktikum alat-alat yang seharusnya dibawa dan kemudian tidak menyusahkan ketika sudah terlaksana praktikum.
.


DAFTAR PUSTAKA
Arfiati, Diana. 1989. Komunitas-Komunitas Alga Perifiton di sungai Cikarangelan, Cikampek Jawa Barat sebagai Tempat Pembuangan Limbah Air Pabrik Pupuk Urea. Bandung: ITB.
Barus, T. A, 2003. Pengantar Limnologi. Medan. Jurusan Biologi FMIPA USU
Effendi, H. 2003. Telaah Kualitas Air. Yogyakarta: UNY.
Krisnandi, Y.K. 2009. Kimia Dalam Air. Jakarta.  KBI Kimia Anorganik Universitas indonesia.
Nontji, Anugerah. 1987. Laut Nusantara. Jakarta: PT Grafindo.
Sudaryanti, Sri. 1991. Dampak Mekanisme Alat Limnotek 3-1 Terhadap Sebaran Oksigen Terlarut di Perairan Situ Benang sari. Bogor: IPB.
Widjanarko., 2005. Tingkat Kesuburan Perairan. Kendari.

Untuk melihat versi dokumennya silahkan klik link dibawah ini:
http://idsly.org/analisiskualitasair

No comments:

Mohon untuk menggunakan kata yang tidak menyinggung unsur SARA. Dan juga tidak menggunakan unsur Phornography. Terima kasih telah mengikuti aturan dalam website ini.

Terima Kasih
Dwi Sulistiyo

@sulistiyo_27