MASIGNASUKAv101
3629257746604744713

LAPORAN PRAKTIKUM : MANAJEMEN TERNAK UNGGAS

LAPORAN PRAKTIKUM : MANAJEMEN TERNAK UNGGAS
Add Comments
Kamis, 09 Mei 2019
LAPORAN PRAKTIKUM
MANAJEMEN TERNAK UNGGAS



Oleh:

Nama
:
Dwi Sulistiyo
NPM
:
E1C016061
Dosen
:
1.     Prof. Dr. Agr. Ir. Johan Setianto
2.     Dr. Ir. Basyarudin Zain, MP.
Asisten
:
1.     Dede Indra
2.     Mariati Komala Sari
3.     Septiana

JURUSAN PETERNAKAN
FAKULTAS PERTANIAN
UNIVERSITAS BENGKULU
2018



KATA PENGANTAR


Puji syukur atas kehadirat Tuhan Yang Maha Esa karena atas berkat rahmat dan karunianya saya dapat menyelesaikan laporan akhir praktikum mata kuliah manajemen ternak unggas. Praktikum ini dilakukan pada tanggal 5 Mei 2018, di CZAL (Comersial Zone Animal Laboratorium) Jurusan Peternakan, Fakultas Pertanian, Universitas Bengkulu.
Dalam penulisan laporan ini saya mengucapkan terima kasih kepada pihak-pihak yang telah membantu saya dalam menyelesaikan laporan ini :
1. Kepada Prof. Dr.agr. Ir. Johan Setianto, selaku dosen Manajemen Ternak Unggas.
2. Kepada Dr. Ir. Basyarudin Zain, MP, selaku dosen Manajemen Ternak Unggas.
3. Kepada Co Ass.
Saya menyadari bahwa selama pembuatan laporan ini masih terdapat banyak kesalahan, untuk itu saya berharap kritik dan saran yang membangun demi perbaikan dalam pembuatan laporan selanjutnya. Akhir kata semoga laporan ini bisa bermanfaat dan juga dapat menambah wawasan untuk pembacanya.


                                                                                    Bengkulu, 8 Juni 2018


                                                                                    Penulis


BAB I

PENDAHULUAN

1.1  Latar Belakang

Ayam ras petelur adalah ayam hasil persilangan yang dipelihara untuk menghasilkan telur. Ayam ras petelur yang dipelihara secara konvensional dan free range memiliki sistem yang berbeda sehingga akan menunjukkan berat badan dan berat telur yang berbeda pula. Pada pola pemeliharaan secara konvensional dilakukan dalam kandang battery (cage) sedangkan pemeliharaan secara free range ayam di umbar di alam. Tujuan praktikum ini adalah untuk mengetahui tingkat produktivitas ayam ras petelur yang dipelihara secara konvensional dan free range Ayam dipelihara hingga 82 minggu dengan manajemen pakan, pencahayaan (16L:8D), dan penanganan kesehatan dilakukan sama untuk kedua model pemeliharaan.Pakan dan air minum diberikan secara ad libitum.
Salah satu keuntungan dari telur ayam ras petelur adalah produksi telurnya yang lebih tinggi dibandingkan produksi telur ayam buras dan jenis unggas yang lain.
Pengelolaan ayam petelur yang baik adalah sangat penting untuk mempeoleh tingkat produksi telur yang tinggi. Apabila ayam petelur dipupuk sebagai sumber penghasilan yang menguntungkan, maka mereka harus tumbuh berkesinambungan sepanjang masa perkembangannya.

1.2  Tujuan

Tujuan dari praktikum ini adalah untuk mengetahui bagaimana manejemen usaha pemeliharaan ayam petelur yang ada dari proses pembibitan, pemeliharaan, pemberian pakan, dan proses pemasanran.



BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

Ayam layer atau ayam petelur adalah ayam yang diternakkan khusus untuk menghasilkan telur konsumsi. Jenis ayam petelur dibagi menjadi tipe ayam petelur ringan dan medium. Tipe ayam petelur ringan mempunyai badan yang ramping dan kecil, bulu berwarna putih bersih, dan berjengger merah, berasal dari galur murni white leghorn, dan mampu bertelur lebih dari 260 telur per tahun produksihen house. Ayam petelur ringan sensitif terhadap cuaca panas dan keributan, responnya yaitu produksi akan menurun. Tipe ayam petelur medium memiliki bobot tubuh yang cukup berat, tidak terlalu gemuk, kerabang telur berwarna coklat,dan bersifat dwiguna (Bappenas, 2010).
Produksi ayam dipengaruhi oleh banyak faktor, antara lain bangsa dan strain ayam yang digunakan, kondisi lingkungan di kandang, dan manajemen pakan. Strain adalah kelompok unggas dalam satu bangsa yang diseleksi menurut kriteria yang spesifik, yaitu umur saat dewasa kelamin, daya hidup, produksi telur, kualitas telur, atau kombinasi dari faktor-faktor tersebut. Macam – macam strain ayam petelur yang dikembangkan dari bangsa Leghorn antara lain Lohmann (LSL, White), Lohmann Brown, Hy-Line W-36 dan W-98, Hy-Line Brown, ISA White dan ISA Brown. Strain ayam petelur  berwarna coklat memiliki performa yang lebih unggul daripada strain ayam petelur berwarna putih. Persentase cangkang pada ISA Brown lebih besar daripada ISA White, selain itu bobot telur, egg mass, dan efisiensi pakannya juga lebih baik (Grobas et al., 2001).
Sistem perkandangan ayam petelur dapat berupa litter dan cage. Sistem litter menggunakan alas berupa sekam, serbuk gergaji, atau bahan lainnya. Sistem cage dapat berupa single bird cage (diisi satu ekor ayam, disebut juga kandang tipe baterai), multiple bird cage (diisi 2 ekor ayam atau lebih, tidak lebih dari 8 – 10 ekor), dan colony cage (diisi 20 – 30 ekor ayam). Lebar bangunan kandang untuk ayam petelur saat fase layer sebaiknya sekitar 8 m apabila tipe kandang terbuka, jika lebar kandang 12 m maka perlu dilengkapi dengan ridge ventilation. Jika ventilasi kurang baik, amoniak dari ekskreta akan mejadi racun bagi ayam, menimbulkan gangguan pernafasan, penurunan produksi, dan penyakit cacing untuk ayam yang dipelihara di kandang litter (Rasyaf, 1996).
Penyimpanan pakan perlu diperhatikan agar pakan tidak lembab atau rusak. Tempat penyimpanan pakan diusahakan bebas dari hama, baik serangga maupun tikus. Gudang pakan harus didesinfeksi serta kondisi ruangan harus kering (Rusman dan Siarah, 2005). Hal-hal yang perlu diperhatikan pada penyimpanan pakan di gudang antara lain: lokasi gudang harus bebas dari genangan air, tidak boleh ada kebocoran atap, dan dilengkapi ventilasi cukup untuk mencegah kelembaban terlalu tinggi; lantai dilengkapi alas dari kayu atau bahan lainnya yang memiliki rongga agar tidak terjadi kontak langsung antara lantai dan karung pakan. Pakan tidak boleh disimpan lebih dari 1 minggu, dan pakan yang didatangkan lebih dulu ke gudang adalah yang digunakan terlebih dahulu.
Pemberian cahaya sebaiknya 14 jam per hari, yaitu kombinasi antara cahaya matahari dan cahaya lampu sebagai tambahan, tujuannya untuk meningkatkan produksi telur, mempercepat dewasa kelamin, mengurangi sifat mengeram, dan memperlambat molting (Kartasudjana dan Suprijatna, 2006). Suhu optimal untuk pemeliharaan ayam petelur strain Hy-Line Brown fase layer yaitu 18 – 27%, dengan batas kelembaban 40 – 60%. Intensitas cahaya sekitar 20 lux. Sistem kandang dapat berupa litter (kepadatan maksimum 8 ekor/m2), slat (kepadatan maksimum 10 ekor/m2) atau kombinasi litter-slat (kepadatan maksimum 9 ekor/m2). Sarang untuk bertelur berbentuk boks, satu sarang dengan ukuran 30 x 40 x 50 cm dapat digunakan maksimum untuk delapan ekor ayam. Sarang tidak diperlukan untuk kandang sistem cage (Yuwanta, 2010).
            Bahan pakan adalah bahan yang dapat dimakan, dicerna dan digunakan oleh hewan. Secara umum, bahan pakan adalah bahan yang dapat dimakan atauedible (Tillman et al., 1991). Bentuk fisik pakan ada beberapa macam, yaitu mash and limited grains (campuran bentuk tepung dan butiran), all mash (bentuk tepung), pellet (bentuk butiran dengan ukuran sama), crumble (bentuk butiran halus dengan ukutan tidak sama. Pakan untuk ayam petelur umur 0 – 6 minggu (fase starter) sebaiknya menggunakan pakan jadi buatan pabrik yang memiliki komposisi pakan yang tepat dan tekstur halus, sedangkan untuk fase grower dan layer dapat digunakan pakan hasil formulasi sendiri.
   Kalsium dan fosfor merupakan mineral utama yang diperlukan untuk pembentukan cangkang telur. Pakan ayam petelur fase layer harus mengandung kalsium sebanyak 3 – 4% (Harms et al., 1996). Defisiensi kalsium akan menyebabkan cangkang telur menjadi tipis dan mudah retak. Jika absorbsi kalsium pakan tidak memenuhi kebutuhan pembentukan cangkang, kalsium diambil dari tulang medulair. Imbangan Ca : P yang terlalu luas dapat menimbulkan ricketsia, yaitu tiap unsur yang berlebihan menyebabkan mengendapnya unsur lain di dalam usus sehingga tidak bisa dimanfaatkan tubuh. Imbangan Ca : P sebaiknya sebesar 9 : 1 saat puncak produksi, 11 : 1 saat produksi sebesar 89 – 93%, selanjutnya 13 : 1 hingga ayam diafkir.
   Lemak merupakan sumber energi tinggi dalam pakan unggas. Asam linoleat dan arakhidonat adalah asam lemak esensial karena tidak dapat disintesis tetapi harus ada di dalam pakan. Pakan yang tidak mengandung cukup asam linoleat menyebabkan pertumbuhan terhambat, terjadi akumulasi lemak di hati, dan lebih rentan terhadap infeksi pernafasan. Defisiensi asam arakhidonat pada ayam petelur menyebabkan ukuran telur kecil. Asam arakhidonat dapat disintesis dari asam linoleat (Suprijatna et al., 2005). Standar kebutuhan asam linoleat dalam pakan ayam petelur fase layer dari umur 27 minggu hingga lebih dari 59 minggu adalah 1,00 g/hari (Hy-Line International, 2010).
   Cage dapat dibuat bertingkat hingga tiga deck atau lebih. Deck disusun membentuk frame A agar ekskreta ayam dari deck atas langsung jatuh ke lantai atau tempat penampungan ekskreta dan tidak jatuh ke deck di bawahnya. Partisi untuk cage dapat berupa solid (tertutup) atau wire. Partisi yang berbentuk wireberfungsi untuk mengoptimalkan pertukaran udara di dalam cage. Cage untuk ayam petelur dapat terbuat dari berbagai bahan seperti logam, plastik, kayu, atau bambu (Lelystad, 2004). Lantai cage dibuat agak miring agar telur dapat menggelinding ke tepi tempat telur sehingga memudahkan proses pengambilannya.
   Periode pertumbuhan ayam petelur dapat dibagi menjadi periode grower (umur 1 hari – 8 minggu), developer (umur 8 – 16 minggu), dan pre-lay (umur 17 – 24 minggu). Kebutuhan nutrisi periode grower yaitu 18,6% PK dan 3870 kkal/kg EM. Kebutuhan nutrisi periode developer yaitu 14,9% PK dan 2750 kkal/kg EM. Kebutuhan nutrisi periode pre-lay yaitu 18,0% PK dan 2755 kkal/kg EM  (Al Nasser et al., 2005).
          Jika energi pakan saat fase layer terlalu rendah (kurang dari 2600 kkal), konsumsi pakan lebih banyak sehingga FCR meningkat dan efisiensi pakan menurun. Sebaliknya jika energi pakan terlalu tinggi akan terjadi penurunan konsumsi (Harms et al., 2000). Kebutuhan PK dan EM pada fase layer tidak sama, tergantung dari umur ayam, produksi telur, dan konsumsi pakan. Hal yang perlu diperhatikan yaitu makin sedikit jumlah pakan yang dikonsumsi, kandungan PK dan EM harus ditingkatkan. Kebutuhan PK dan EM fase layer pada berbagai tingkatan umur dapat dilihat pada Tabel 1.
Tabel 1. Kebutuhan PK dan EM Fase Layer untuk Strain Hy-Line Brown
Umur
27 – 32 minggu
33 – 44 minggu
45 – 58 minggu
≥ 59 minggu
Hen Day Production
94 – 96%
89 – 93%
85 – 88%
< 85%
Konsumsi
93 – 113 g
100 – 120 g
100 – 120 g
99 – 119 g
Kebutuhan PK
15,04 – 18,28%
13,96 – 16,75%
13,33 – 16%
13,03 – 15,66%
Kebutuhan EM
2778 – 2867 Kkal/kg
2734 – 2867 Kkal/kg
2679 – 2867 Kkal/kg
2558 – 2833 Kkal/kg
Sumber: Hy-Line Internasional, 2010.
Protein pakan sebagian besar digunakan untuk produksi telur, hanya sebagian kecil untuk hidup pokok. Semakin tinggi tingkat produksi maka kebutuhan protein juga semakin tinggi (Suprijatna et al., 2005). Protein pakan harus mencukupi kebutuhan asam-asam amino untuk menunjang produksi yang optimal (Leeson, 2008). Kebutuhan asam amino bagi ayam petelur fase layer dapat dilihat pada Tabel 2.
Tabel 2. Standar Kebutuhan Asam Amino untuk Strain Hy-Line Brown
Umur
27 – 32 minggu
33 – 44 minggu
45 – 58 minggu
≥ 59 minggu
HDP
94 – 96%
89 – 93%
85 – 88%
< 85%
Lisin (mg)
931
920
876
821
Metionin (mg)
448
443
422
395
Metionin + Sistin (mg)
805
815
776
727
Treonin (mg)
700
692
659
618
Triptofan (mg)
213
211
201
188
Arginin (mg)
978
966
920
863
Isoleusin (mg)
722
714
680
637
Valin (mg)
844
834
794
744
Sumber: Hy-Line Internasional, 2010.
Kebutuhan vitamin dan mineral untuk ayam petelur strain Hy-Line Brown fase layer dapat dilihat pada Tabel 3 dan 4.
Tabel 3. Standar Kandungan Vitamin Ransum pada Fase Layer
Vitamin
Kandungan dalam 1000 Kg Ransum
Vitamin A (IU)
8.000.000*
Vitamin D(IU)
500.000**
Vitamin E (IU)
5.000**
Vitamin K (mg)
500**
Thiamin (mg)
1.700*
Riboflavin (mg)
5.500*
Asam pantotenat (mg)
6.600*
Niasin (mg)
28.000*
Piridoksin (mg)
3.300*
Biotin (mg)
100**
Kolin (mg)
500.000**
Vitamin B12 (mg)
22,18*
Sumber: *  Hy-Line Internasional, 2010
**North danBell, 1990.

Tabel 4. Kebutuhan Mineral Ayam Petelur Tipe Medium pada Fase Layer
Mineral
Umur 21 – 40 minggu
Umur > 40 minggu
Kalsium (%)
3,00
3,25
Fosfor (total, %)
0,50
0,50
Natrium (mg/kg)
0,15
0,15
Mangan (mg/kg)
110
110
Seng (mg/kg)
50
50
Sumber: North dan Bell, 1990.
     Pemberian pakan saat tengah malam (midnight feeding) dapat dilakukan apabila diberikan cahaya yang cukup, yaitu dari lampu. Tujuan night feeding dan midnight feeding yaitu memberikan kesempatan bagi ayam untuk meningkatkan suplai kalsium dari saluran pencernaan secara langsung untuk pembentukan cangkang telur. Hal ini mencegah pengambilan kalsium dari tulang yang meningkatkan risiko pengeroposan tulang saat ayam mulai tua. Waktu pemberian pakan di pagi atau siang hari menyebabkan ayam mengabsorbsi zat-zat pakan sebagian besar untuk  hidup pokok dalam sehari, regenerasi sel, mengatasi pengaruh lingkungan seperti cuaca sehingga tidak semuanya dimaksimalkan untuk pembentukan telur (Shirt , 2010).
   Tempat pakan dan minum yang dipelihara dalam sistem litter umumnya berupahanging feeder atau hanging waterer. Hanging feeder ditempatkan setinggi punggung ayam, sedangkan tempat minum setinggi leher ayam. Perusahaan besar pada umumnya menggunakan tempat pakan dan minum otomatis. Tempat pakan dan minum untuk kandang sistem cage umumnya berbentuk trough (memanjang) (Kartasudjana dan Suprijatna, 2006). Tempat pakan berbentuk trough untuk pemeliharaan strain Hy-Line Brown pada sistem cage sebaiknya sedalam 9 cm, tempat minum sedalam 2,5 cm. Satu trough  dapat dibuat untuk 12 ekor ayam. Untuk kandang yang menggunakan hanging feeder dan hanging waterer, satu tempat pakan maksimum untuk 30 ekor ayam, sedangkan satu tempat minum (berbentuk nipple drinker) maksimum untuk 10 ekor ayam (Hy-Line International, 2010).
   Biosekuriti merupakan metode terbaik untuk mencegah penyakit. Prosedur yang diterapkan dalam biosekuriti antara lain yaitu tidak mengunjungiflock ayam sehat setelah mengunjungi flock ayam sakit, melakukan fumigasi dan disinfeksi kandang sebelum kedatangan pullet. Pemeliharaan dengan sistem all in all out dalam suatu flock juga dapat mencegah penularan penyakit dari ayam tua ke ayam muda karena dalam sistem tersebut ayam pengadaan pullet dan pengafkiran dilakukan secara menyeluruh sehingga umur ayam yang dipelihara sama (Blakely dan Bade , 2008).
   Kualitas eksterior telur antara lain ditentukan oleh cangkangnya, yaitu meliputi kebersihan, bentuk, tekstur, dan keutuhan. Pengambilan telur dalam satu hari minimal empat kali supaya telur yang didapat bersih dan mengurangi resiko telur pecah karena terinjak oleh ayam (Sudaryani dan Santosa, 2000). Penimbangan telur dilakukan bersamaan dengan pengepakan dan tidak mengikutkan telur yang pecah. Penimbangan diperlukan dalam suatu penjualan dari peternak ke pedagang atau konsumen terakhir, satuan yang dipakai adalah berat dan di Indonesia biasanya adalah kilogram (Adiwilaga, 1982).
          Tujuan pengepakan telur konsumsi adalah untuk mencegah kebusukan dan berperan dalam menjaga agar telur tetap bersih dan biasanya pembungkusan dengan peti kayu (Winarno dan Jennie, 1983). Setiap perusahaan menyimpan produknya sebelum terjual, dalam hal ini fungsi gudang diperlukan karena siklus produksi dan konsumsi jarang sesuai, sehingga kelancaran dalam suatu pemasaran dapat terjaga (Kotler, 1997).
   Feed Convertion Ratio (FCR) atau konversi pakan merupakan perbandingan antara ransum yang dihabiskan ayam dalam menghasilkan sejumlah telur. Keadaan ini sering disebut dengan ransum per kilogram telur. Ayam petelur yang baik akan makan sejumlah ransum dan menghasilkan telur yang lebih banyak daripada sejumlah ransum yang dimakannya (Bappenas, 2010). FCR ayam layer umumnya sebesar 2,33 ± 0,04 (Mussawar et al., 2004). Standar FCR bagi ayam layer strain Hy-Line Brown yaitu sebesar 2,05 pada umur 21 – 72 minggu.
   Bobot telur dipengaruhi oleh beberapa faktor, yaitu genetik, umur induk, pakan, sistem pemeliharaan, dan lingkungan (Arthur dan O’Sullivan, 2010). Bobot telur semakin meningkat apabila umur ayam meningkat. Persentase bobot cangkang semakin menurun karena isi telur meningkat, akibatnya rasio cangkang dan isi telur menurun. Kelembaban yang semakin rendah menyebabkan bobot telur semakin menurun (Roberts dan Ball, 2003). Pakan yang mengandung EM terlalu tinggi, yaitu lebih dari 2800 kkal pada fase layer menyebabkan penurunan bobot telur (Harms et al., 1996).


BAB III

METODOLOGI

1.1  Waktu dan Tempat Praktikum


Praktikum dilakukan di kandang milik universitas Bengkulu,diusaha ayam petelur milik pak warnoto,salah satu dosen peternakan universitas bengkulu, praktikum dilakukan hanya melihat kondisi kandang peternakan unggas sambil dijelaskan oleh pemilik usaha mengenai manajemen pemeliharaan ,kesehatan,pakan,dan pemasaran.

1.2  Materi

1.      Buku Catatan
2.      Alat Tulis
3.      Kandang Ayam yang di amati
4.      penjelasan dari narasumber

1.3  Metode

·         Mendengarkan penjelasan dari narasumber
·         Mencatat materi penjelasan
·         Mengamati kandang pemeliharaan
·         Meminta acc coas dari materi yang dijelaskan dan dicatat



BAB IV

HASIL DAN PEMBAHASAN

4.1  Lokasi Kandang

Praktikum dilakukan di Kandang Bapak Ir. Warnoto , MP di Kandang CZAL Jurusan Peternakan Fakultas Pertanian Universitas Bengkulu yang beralamat di Jl. W.R. Supratman, Kandang Limun, Muara Bangkahulu, Kota Bengkulu, Prov. Bengkulu 3871.

4.2  Pemeliharaan

4.2.1        Masa Brooding

Pada saat sebelum DOC datang, persiapan-persiapan untuk masa brooding nanti harus lengkap. Masa brooding adalah keadaan dimana ayam dari umur 1 hari sampai beberapa hari kedepan yang keadaan panas disekelilingnya harus benar-benar diatur. Pada saat sebelum DOC datang tempat pakan, tempat minum, chick guard, brooder, sekam, dan penyediaan air gula. Dan pada saat DOC datang penimbangan bobot badan dan penghitungan berapa banyak DOC sangat penting dilakukan. Dan juga pemberian air gula merah pada saat DOC datang dengan tujuan untuk mengembalikan tenaga yang telah habis dipakai selama perjalanan. DOC yang baru datang juga dapat diberikan Vitachick dan juga melakukan terapi selama 1 minggu sehingga membantu ayam mencegah cekaman kedinginan.
Pembahasan :
Menurut (Rasyaf, 1996) pada saat DOC baru tiba dikandang, istirahatkan terlebih dahulu selam kurang lebih 2 jam dan biarkan mereka istirahat dengan santai dan peternak sambil menghidupkan brooder sebelum nantinya DOC dilepas di kandang brooding. Dan hal itu sesuai dan selalu dilakukan oleh peternak sendiri karena selain untuk memberikan kesempatan kepada DOC beristirahat, dapat juga mengontrol sistem pernafasannya.
Menurut (Suprijatna, 2006) pada saat DOC datang lakukan penimbangan bobot badan dan perhitungan jumlah DOC yang akan diberikan. Dan peternak juga selalu melakukan hal itu untuk menghindari hal-hal yang tidak diinginkan. Dan juga untuk mempermudah pemantauan peternak.

4.2.2        Periode Starter

Yang dikatakan ayam pada periode starter yaitu ayam yang berumur 4 hari – 6 minggu. Hal yang dilakukan pada saat umur 4 hari yaitu melakukan vaksinasi ND untuk mencegah penyakit dari ND. Vaksin yang digunakan yaitu vaksin ND HB yang dilakukan melalui tetes mata dan vaksin itu menjadi dasar DOC untuk tahan dari serangan berbagai macam penyakit. Kalau seandainya vaksin ND HB tidak ada, maka dapat digantikan dengan menggunakan vaksin ND Lasotta dan melalui  air minum. Pada umur 21 hari, peternak menurunkan kualitas kandungan pakannya dan kemudian mencampur pakan yang akan digunakan menjadi jagung giling dan konsentrat. Perbandingan antara jumlah jagung giling dengan konsentrat yang akan digunakan yaitu 2:1. Ukuran jagung yang digunakan janganlah terlalu besar karena ayam tersebut akan menelannya.
Pembahasan :
Menurut  (Suprijatna, 2006) yang dikatakan periode starter yaitu pada saat umur DOC 1 hari – 1 minggu. Hal ini terjadi perbedaan pendapat karena yang dikatakan oleh peternak yang kami wawancarai berbeda dengan apa yang ditulis oleh literatur. Hal itu mungkin saja terjadi karena pengalaman setiap peternak itu berbeda walau mereka mempunyai ternak yang sama.
            Menurut peternak sendiri, beliau akan menurunkan kualitas pakan pada saat umur 21 hari. Hal itu terjadi karena pada saat umur itulah ayam-ayam petelur mempunyai produksi yang sangat tinggi dan baik. Dan hal ini sesuai dengan perkataan (Rasyaf, 1996) yang mengatakan bahwa pada saat ayam berumur kurang lebih 21 hari maka akan terjadi penimbunan lemak yang sangat luar biasa karena pada saat inilah produksi telur meningkat tinggi.

4.2.3        Periode Grower

Yang termasuk kedalam periode grower yaitu ayam petelur yang berumur 1 bulan setengah. Pada periode ini kandang harus semakin dilebarkan karena pada fase ini pertumbuhan ayam sangat terlihat sehingga mereka membutuhkan tempat untuk bermain lebih luas lagi sehingga tidak akan berdesekan pada saat mengambil pakan pada tempatnya nanti. Pada fase ini juga pakan dicampur sendiri dengan formulasi sendiri dan bisa juga memakai pour (pakan jadi) dan kemudian ditambah dengan jagung giling dan jika umur ayam 1 setengah bulan, maka perbandingan pakan dengan konsentrat yang digunakan tidak lagi menjadi 2:1 melainkan menjadi 1:1. Pada umur 42 hari, ayam kembali divaksin dengan menggunakan vaksin horiza dan vaksin dilakukan dengan cara injeksi sub kutan di leher. Pada periode inilah ayam-ayam dimasukkan kedalam kandang batteray karena mereka akan segera berproduksi.

4.2.4        Periode Layer

Yang termasuk kedalam periode layer ini adalah umur 46 hari sampai masa ayam berproduksi. Pada umur 50 hari ayam kembali di vaksin dengan menggunakan vaksin ND Ernolsim (vaksin yang dicampur dengan susu sekitar setengah ml/ekor). Alat vaksin yang digunakan yaitu dengan menggunakan sporex yaitu jarum suntik yang jarumnya dapat diganti-ganti agar meminimalisir penyebaran penyakit. Pada fase layer, persentase konsentrat dengan jagung yaitu pada konsentrat 35% dan jagung 48%. Jenis konsentrat yang digunakan adalah KLK (Konsentrat Khusus Layer). Pada umur 4 setengah bulan ayam-ayam mulai bertelur dan pada bulan ke 5,7,8,9 adalah puncak produksi mencapai 85%.

4.3  Manajemen Penyakit

Dalam memanajemen penyakit, peternak sendiri hanya melakukan vaksinasi dan biosecurity. Biosecurity sendiri dilakukan pada saat sebelum DOC datang ke kandang. Yang dibiosecurity adalah kandang dan lingkungan sekitar ternak. Vaksinasi dilakukan sesuai dengan jadwal yang telah ditetapkan. Dengan dilakukannya itu pada tahap awal , maka akan meminimalisir penyakit pada ternak. Jika pada umur 4 bulan ada endemik flu burung, sebelum ayam naik ke kandang batterai sekitar 4-5 bulan , ayam diberikan vaksinasi berupa ND Lassota melalui air minum. Dan ayam juga divaksinasi vaksin Gumboro sekitar pada umur 2 setengah bulan sampai 3 bulan.

4.4  Manajemen Pakan

Yang dilakukan peternak dalam memanajemen pakan yaitu :
Pada umur 21 hari peternak menurunkan kualitas pakan. Kualitas yang dimaksud adalah perbandingan antara pakan dan konsentrat. Pada umur 21 hari perbandingan formulasi ransum adalah 2:1. 2 adalah pemberian pakan berupa jagung halus dan 1 adalah pemberian konsentratnya. Sedangkan pada periode grower, pakan dicampur sendiri dan bisa juga pakai pakan pour (pakan jadi) dan ditambah dengan jagung giling dan pada umur sekitar 1 setengah bulan menggunakan perbandingan 1:1. Dan pada fase layer pemberian konsentrat 35% dan pemberian jagung giling sekitar 48%. Jagung yang digunakan sekitar 100 kg, konsentrat sekitar 50 kg, dedak sekitar 40 kg, dan mineral mix sekitar 3 kg. Dari semuanya itu rata-rata diberikan kepada ayam sekitar 120 gr/ekor/hari.

4.5  Hasil Penjualan

Yang dilakukan peternak dalam manajemen pemasaran masih sederhana. Artinya telur-telur tersebut hanya dijual sekitaran kandang yaitu UNIB, misal Toko Remaja Kampus (RK), dijual kepada dosen-dosen UNIB, toko roti Surya, Rumah Orange, dan warung-warung disekitar UNIB.



BAB V

PENUTUP

5.1  Kesimpulan

Dari praktikum yang kami lakukan dapat kami simpulkan bahwa sebenarnya beternak ayam petelur sangat menguntungkan dan sangat menjanjikan jika kita pintar dalam memanage keuangan ,pakan,kandang ,maupun kesehatan.dari pratikum yang kami lakukan diharapkan dapat memotivasi praktikan untuk dapat mengembangkan juga usaha yang bersifat peternakan dan sangat menjanjikan.

5.2  Saran

Saran saya pada praktikum kali ini yaitu kepada praktikan harus lah memperhatikan apabila dosen sedang menyampaikan materi mengenai praktikum yang akan dilaksanakan dimana agar tidak tanya sana sini lagi dan mencatat apa yang kalian anggap penting dan bertanya apa bila kurang jelas.



DAFTAR PUSTAKA

Roberts, J.R dan W . Ball. 2003 . Egg and egg shell quality guidelines for the Australian egg industry . Proceeding Australian Poultry Science Symposium 2003 : 91 – 94.
Bappenas . 2010 . Beternak Ayam Petelur . Jakarta : Penerbit Swadaya .
Grobas et al . 2001 . Midnight feeding of commercial laying hens can improve eggshell quality . Journal of Poultry Applied Science Research 5 :1 -5 .
Rasyaf . 1996 . Beternak Ayam Petelur itu Mudah . Jakarta : Penerbit Swadaya .
Rusman dan Sariah . 2005 . Sejarah dan Manajemen Pemeliaharaan Ayam Petelur . Bandung : Penerbit Erlangga.
Kartasudjana dan Suprijatna . 2006 . Dasar – Dasar Pemasaran. Jilid 2.Prehalindo,Indonesia.
Yuwanta . 2010. Kerusakan Bahan Pangan dan Cara Pencegahannya. Ghalia Indonesia, Jakarta .
Tillman et al . 1991 . How to Feed Chickens Part 2 . Journal of Science Food Agriculture 87: 2741 – 2746.
Harms, R.H., G.B. Russel, dan D.R. Sloan. 1996 . Performance of four strains pf commercial layers with major changes in dietary energy. Journal of Applied Poultry Research 9: 535 – 541 .
Hy-Line International . 2010 . Hy-Line Brown Intensive Systems Performance Standards . Journal of Poultry Applied Science Research 5 :1 -5 .
Suprijatna et all . 2005 . Pembibitan Ayam Ras. Cetakan V . Penebar Swadaya, Jakarta .
Lelystad, P.V. 2004 . Welfare aspects of various systems for keeping laying hens . The EFSA Journal (197): 1-23 .
Al Nasser, A., A. Al Saffar, M. Mashaly, H. Al Khalaifa, F. Khalil, M. Al Baho, dan A. Al Haddad . 2005. A comparative study on production efficiency of brown and white pullet . Bulletin of Kuwait Institute for Scientific Research 1 (1): 1 – 4 .
Leeson, S . 2008 . Production for commercial poultry nutrition . Journal Applied Poultry Research  (17): 315 – 322 .
Shirt . 2010 . Perspective animal welfare in organic farming system . Journal of Science Food Agriculture 87: 2741 – 2746 .
Blakely, J. dan D.H. Bade . 2008 . Ilmu Peternakan . Gadjah Mada University Press, Yogyakarta (Diterjemahkan Oleh B. Srigandono) .
Sudaryani, T dan H. Santosa . 2000 . Pembibitan Ayam Ras . Jakarta : Penerbit Swadaya .
Adiwilaga, A . 1982 . Ilmu Usaha Tani . Bandung : Penerbit Alumni .
Winarno, F.G dan B.S.L. Jennie. 1983. Kerusakan Bahan Pangan dan Cara Pencegahannya . Jakarta : Penerbit Ghalia .
Arthur, J.A. dan N. O’Sullivan. 2010 . Breeding chickens to meet egg quality needs . International Hatchery Practice 19 (7) : 7 – 9.
Kotler , M . 1997 . Using Meat and Bone Meal in Poultry Diet . University of Florida ,  Florida.


Dwi Sulistiyo

Hallo Sobat Semua, Saya Dwi Sulistiyo. Penulis modal nekat. Follow IG ya: @sulistiyo_27 Terima Kasih sudah Berkunjung...

Mohon untuk menggunakan kata yang tidak menyinggung unsur SARA. Dan juga tidak menggunakan unsur Phornography. Terima kasih telah mengikuti aturan dalam website ini.

Terima Kasih
Dwi Sulistiyo

  1. Terima Kasih kak, laporannya udah di bagikan...

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya sama-sama kak.
      Terima Kasih sudah berkunjung. Jangan bosan-bosan...

      Hapus