MASIGNASUKAv101
3629257746604744713

LAPORAN PRAKTIKUM : PRODUKSI TERNAK UNGGAS

LAPORAN PRAKTIKUM : PRODUKSI TERNAK UNGGAS
Add Comments
Kamis, 07 November 2019

LAPORAN PRAKTIKUM PRODUKSI TERNAK UNGGAS
PERFORMA PERTUMBUHAN AYAM BROILER SAMPAI UMUR LIMA MINGGU

Oleh :
Nama                           : Dwi Sulistiyo
NPM                           : E1C016061
Kelompok                   : 17 (Tujuh Belas)
Nama Dosen               : 1. Ir. Kususiyah, MP
                                                              2. Ir. Hardi Prakoso, MP
Asisten Dosen             : 1. Arief Sofiyan          6. Handri Wahyudi
  2. Anindita                  7. Kendini Tiyanti
                                                              3. Bani Darul Ulum    8. Lopi Saputro
  4. Desi Wulandari       9. M. Hidayat
                                                              5. Handri Wahyudi    10. Syukri Halim Jatmiko
                                                              
JURUSAN PETERNAKAN
FAKULTAS PERTANIAN
UNIVERSITAS BENGKULU
2017

BAB I
PENDAHULUAN

1.1    Latar Belakang

Ayam broiler adalah salah satu klasifikasi sebagai ayam pedaging atau ayam yang arah kemampuan utamanya menghasilkan daging. Ayam broiler merupakan salah satu sumber protein hewani paling sering dan paling banyak dikonsumsi oleh masyarakat Indonesia. Hal ini dikarenakan harga yang murah daripada dengan sumber protein hewani lainnya.
Anatomi ayam hampir sama pada semua strain. Perbedaan secara anatomi biasanya hanya ukuran tubuh. Ayam broiler yang masih kecil yang baru dibeli sangat di identik dengan pengawasan dan ketelitian. Pada ayam broiler yang baru datang sangat membutuhkan perlakuan yang baik dan pemanasan.
Dengan berkembangnya ilmu pengetahuan, ayam broiler yang dulunya bisa dipanen dalam waktu sekitar dua bulanan, sedangkan sekarang ayam broiler bisa dipanen hanya dalam kurun waktu hanya sekitar 35 hari. Pertambahan bobot badan yang drastis juga terjadi pada ayam broiler, hal ini disebabkan oleh perkembangan strain ayam broiler yang semakin baik.
Pertumbuhan yang baik tergantung pada makanan disamping tata laksana dan pencegahan penyakit. Bila kualitas maupun kuantitas makanan yang diberikan baik maka hasilnya juga baik. Hasil akhir dari ayam broiler mencerminkan perilaku kita dalam memberikan makanan dan cara kita memelihara ayam.
Ayam broiler sangat mudah sekali mengalami stress. Oleh sebab itu diperlukan pemeliharaan yang baik dan efesien, karena stress dapat menyebabkan pertumbuhannya terhambat dan dapat menyebaban kematian.
Untuk dapat mengetahui hal tersebut kita harus mengetahui cara pemeliharaan ayam broiler yang baik secara langsung. Dengan demikian dapat mengetahui secara langsung hal-hal yang berkaitan dengan cara pemeliharaan, serta factor-faktor yang mempengaruhi pemeliharaan ayam broiler sehingga menjadi tolok ukur ketika berada langsung di lapangan pekerjaan.
Dari uraian diatas praktikum pemeliharaan ayam broiler dilakukan agar kita bisa secara langung mempraktekkan teori yang kita dapat dari kuliah kepada ayam broiler peliharaan kita.

1.2    Tujuan

Untuk mengetahui performans pertumbuhan ayam broiler selama 5 minggu

BAB II
TINJUAN PUSTAKA

Ayam broiler merupakan suatu ternak unggas hasil dari bududaya ayam yang bersifat ekonomis dengan pertumbuhan yang cukup cepat dalam menghasilkan daging yang siap potong dengan lama budidaya yang relative singkat, baik yang berjenis kelamin jantan maupun betina. Ayam broiler di Indonesia baru dikenal menjeang priode 1980-an, walaupun galur murninya sudah diketahui sejak tahun 1960-an (Kanisius, 1986).

Ayam Pedaging (Broiler) adalah ayam ras yang mampu tumbuh cepat sehingga dapat menghasilkan daging dalam waktu relatif singkat (5 sampai 7 minggu). Broiler mempunyai peranan yang penting sebagai sumber protein hewani asal ternak. Pengertian Ayam Broiler adalah istilah yang biasa dipakai untuk menyebut ayam hasil budidaya teknologi peternakan yang memiliki karakteristik ekonomi dengan ciri khas pertumbuhan yang cepat, sebagai penghasil daging dengan konversi pakan rendah dan siap dipotong pada usia yang relatif muda. Pada umumnya broiler ini siap panen pada usia 28 sampai 45 hari dengan berat badan 1,2 sampai 1,9 kg/ekor (Azis dkk, 2010).

Ayam broiler adalah ayam jantan atau betina berwarna putih yang umumnya dipanen pada umur 5 sampai 6 minggu dengan tujuan sebagai penghasil daging (Kartasudjana dan Suprijatna, 2006). Ayam broiler telah dikenal masyarakat dengan berbagai kelebihannya, antara lain pertumbuhannya yang cepat hanya 5 sampai 6 minggu sudah siap dipanen (Rasyaf, 2008). Menurut North (1984), menyatakan bahwa pertambahan bobot badan yang ideal pada ayam broiler adalah 400 gram per minggu untuk jantan dan untuk betina 300 gram per minggu. Untuk mendapatkan bobot badan yang sesuai dengan yang dikehendaki pada waktu yang tepat, maka perlu diperhatikan pakan yang tepat. Kandungan energi pakan yang tepat dengan kebutuhan ayam dapat mempengaruhi konsumsi pakannya (Anggorodi, 1985).

Ayam broiler memiliki kelebihan dan kelemahan. Kelebihan ayam broiler adalah pertambahan bobot badan sangat cepat, dagingnya empuk, ukuran badan besar, bentuk dada lebar, padat dan berisi, efisiensi terhadap pakan relatif tinggi, hampir sebagian besar dari pakan mampu diubah menjadi daging sedangkan kelemahannya adalah membutuhkan pemeliharaan yang intensif dan cermat serta relatif lebih peka terhadap infeksi penyakit (Murtidjo, 1987). 

Sanitasi adalah salah satu cara yang dilakukan untuk mencegah dan memberantas mikroorganisme yang mempunyai pengaruh yang berbahaya terhadap kesehatan ternak. Cara sanitasi yang baik adalah suatu faktor yang penting dalam manajeman pencegahan penyakit (Mulyantini, 2010). Semua peralatan yang digunakan harus dicuci bersih agar kuman yang terdapat dalam seluruh peralatan yang di pergunakan untuk membersihkan kandang dapat mati terbunuh. Kebersihannya harus dijaga karena kandang yang kotor dapat mengundang penyakit dan dapat merusak kesehatan ternak (Rasyaf, 2008). Sanitasi merupakan suatu usaha untuk pencegahan dan penyebaran bibit penyakit 5 pada ternak sehingga dapat menyebabkan terjangkitnya penyakit pada ternak (Suprijatna et al., 2008).

Lingkungan kandang harus bersih agar tidak ada hewan yang bersarang di sekitar kandang yang dapat menyebarkan bibit penyakit. Lingkungan kandang dibersihkan agar udara yang masuk kedalam kandang dapat bersirkulasi dengan baik karena tidak terhalang oleh rumput di sekitar kandang (Rasyaf, 2008). Lokasi di sekitar kandang harus di bersihkan dari semak-semak yang kemungkinan dijadikan sebagai tempat persembunyian hewan liar. Di khawatirkan, hewan tersebut membawa bibit penyakit (Suprijatna el al,. 2008). Kebersihan harus selalu dijaga kotoran harus selalu dibuang pada tempat yang telah disediakan, genangan air di sekitar kandang harus dijaga kebersihannya untuk menghindari berkembangnya bakteri di dalam genangan air yang kotor dan diuayakan tidak ada lalat atau serangga lainnya yang dapat menganggu ternak di kandang. Penyemprotan obat hama dilakukan di sekitar kandang untuk membasmi hama pembawa penyakit (Fadillah,2005)

Kebersihan kandang dan peralatan adalah mutlak dalam setiap usaha peternakan ayam. Kandang yang kotor, peralatan yang kotor merupakan tempat yang sangat disukai oleh penyakit dan tempat sangat nyaman bagi penularan penyakit sehingga bibit penyakit dapat tumbuh dengan baik oleh karena itu pembersihan kandang sangatlah penting (Rasyaf, 2008). Pembersihan kandang 6 dilakukan untuk mencegah adanya bibit penyakit karena sangat rawan bagi tumbuhnya bibit penyakit (Nuroso, 2010). Peralatan yang digunakan di dalam kandang harus selalu bersih. Pembersihan dilakukan terhadap tempat pakan dan tempat minum hal ini dilakukan untuk mengindari tumbuhnya bibit penyakit (Suprijatna et al, 2008).

Pemeliharaan saat DOC tiba merupakan awal dari pemeliharaan selanjutnya. DOC yang baru datang biasanya mengalami stress dan kemunduran kondisi. Oleh karena itu, pemberian air minum dilakukan setelah DOC beristirahat kira-kira 2-3 jam. Air minum yang diberikan pertama kali biasanya diberi tambahan gula jawa sebagai suplay energi. Pemberian air harus ad libitum dan ditempatkan secara merata disekitar sumber pemanas. Kandang DOC harus diberi pemanas karena pada umumnya sistem kekebalan tubuh DOC belum stabil dalam fungsinya. Pada keesokan harinya, air minum di tambah suplemen / vitamin (Ginsono, 1986). Ginsono (1986) menambahkan ransum pakan yang diberikan untuk DOC harus mengandung kadar protein 23% dan metabolisme energi (ME) 2000-3000 kcal.

Pemeliharaan minggu pertama memerlukan pengawasan yang khusus karena di dlam periode ini, DOC sedang mengalami tahap penyesuaian dengan tempat yang baru. Pemeliharaan DOC umur 1 minggu dengan cara: DOC yang barudibeli satu-persatu dipindahkan ke kandang yang sudah terdapat lampu sebagai pemanas. Jangan diberi minum atau pakan lebih dahulu, dibiarkan selama 25 menit untuk mengenali lingkungan yang baru. Selanjutnya dapat diberikan air minum dicampur gula pasir dengan perbandingan 20 gram gula pasir dicampur 4 liter air putih untuk 100 ekor DOC. Gunakan tempat minum tabung ukuran 1 liter. Peranannya sangat penting untuk pengembalian kondisi DOC selama perjalanan. Pada hari kedua air minum dicampur dengan antibiotik, dan pada hari keempat diberi vaksin ND (Murtidjo, 1987).

Pemberian ransum pada ternak yang masih berumur sehari atau DOC diletakkan dikertas atau tempat pakan dari nampan yang kecil. Setelah ayam berumur diatas 1 minggu, tempat pakan harus diganti dengan tempat pakan khusus yang digantung (Harto, 1987).

Vaksinasi adalah preparat yang mengandung mikroorganisme kidup tetapi non aktif. Bila diberikan pada ternak, tidak akan menimbulakan penyakit, tapi merangsang kekebalan tubuh untuk membentuk antibodi yang sesuai dengan mikroorganisme (Yuwono, 1992).

Tujuan vaksinasi adalah mengusahakan kekebalan tubuh secara efektif terhadap ayam yang ada untuk jangka waktu tertentu.Agar vaksinasi berhasi dengan baik, dalam melakukan vaksinasi perlu diperhatikan hal – hal berikut : ayam yang divaksin adalah ayam yang sehat saja. Apabila pelaksanaan vaksin melalui air minum, maka tempat minum harus dicuci lebih dahulu tetapi tidak boleh memakai desinfektan, detergent, dan sabun. Air minum yang digunakan untuk bermacam – macam vaksin hendaknya tidak mengandung chloor atau zat –zat lain yang dapat mematikan virus. Oleh karena itu agar vaksinasi ini aman, dianjurkan mamakai air sumur, aquadest, air hujan, tapi jangan memakai air ledeng (Yuwono, 1992).

Ayam broiler merupakan hasil teknologi yaitu persilangan antara ayam Cornish dengan Plymouth Rock. Karakteristik ekonomis, pertumbuhan yang cepat sebagai penghasil daging, konversi pakan rendah, dipanen cepat karena pertumbuhannya yang cepat, dan sebagai penghasil daging dengan serat lunak (Murtidjo, 1987). Menurut Northe (1984) pertambahan berat badan yang ideal 400 gram per minggu untuk jantan dan untuk betina 300 gram per minggu.

Vaksinasi yaitu memasukan agen penyakit yang telah dilemahkan kedalam tubuh ayam kemudian antibodi di dalam darah ayam meningkat sesuai dengan 8 agen yang dimasukan, diharapkan ayam memiliki kekebalan tubuh yang kuat untuk melawan penyakit (Fadillah,2005). Vaksinasi harus dilakukan sesuai dengan jenis unggas, umur unggas, dan petunjuk yang direkomendasikan untuk pemberian vaksin pada unggas, serta mengetahui jenis vaksin yang akan di berikan ke unggas (Mulyantini, 2010). Fungsi pemberian vaksin bertujuan untuk mencegah dan mempercepat pertumbuhan ayam, vaksin dapat mencegah pertumbuhan makhluk lain di dalam tubuh ayam. Vaksin dapat memberantas organisme lain yang menghambat pertumbuhan (Rasyaf,2008). Agar ayam tidak mudah terkena penyakit, pencegahan dilakukan dengan program vaksinasi (Rahayu, 2011).

BAB III
METODOLOGI

3.1 Waktu Dan Tempat Pelaksanaan

Praktikum produksi ternak unggas ini dilaksanakan mulai dari tanggal 16 September 2017 sampai dengan 12 November 2017. Bertempat di kandang peternakan universitas Bengkulu (CZAL UNIB).

3.2 Alat dan Bahan

3.2.1 Sanitasi Kandang Dan peralatan
Sanitasi Kandang

- Sapu Lidi
- Sapu Ijuk
- Spayer
- Air
- Cangkul
- Kapur Tembok
- Desinfektan
- Plastik Tirai Kandang
- Kuas
- Ember

Sanitasi Peralatan Kandang- Tempat Pakan

- Tempat Minum
- Brooder (indukan)
- Brooder Guard (pembatas indukan)
- Desinfektan
- Air
- Tapas
- Kuas
- Kapur Dinding
- Ember

3.2.2 Menyiapkan Kandang Brooding

Menyiapkan Kandang Brooding

- Brooder yang telah disanitasi
- Brooder guard yang telah disanitasi
- Tempat pakan dan tempat minum yang telah disanitasi
- Kertas karton
- Sekam padi

Pemeliharaan Broiler Pada Masa Brooding

- Kandang brooding yang telah disiapkan
- Tempat pakan yang telah disanitasi
- Tempat minum yang telah disanitasi
- DOC (Day Old Chick) broiler
- Gula merah
- Pakan
- Air minum

3.2.3 Pemeliharaan Brooder Setelah Masa Brooding Dan Vaksinasi

Pemeliharaan Broiler Selepas Masa Brooding

- Kandang system litter
- Anak ayam selepas masa brooding (umur 2 minggu)
- Tempat pakan
- Tempat minum

Vaksinasi

- Vaksin ND
- Larutan dapar
- Anak ayam umur 4 hari
- Anak ayam umur 3 minggu
- Spuit ukuran 5 cc
- Vitachick
- Aquadest

3.3 Cara Kerja

3.3.1 Sanitasi kandang

  • Menyapu lantai kandang sampai bersih dengan menggunakan sapu ijuk.
  • Membersihkan lantai kandang dengan air, memakai sapu lidi sehingga air tidak ada yang menggenang pada lantai kandang.
  • Menggulung plastik tirai kandang supaya kandang cepat kering.
  • Setelah kandang kering, kapurlah lantai kandang dan dinding kandang (lebih kurang setengah meter).
  • Setelah kandang dikapur dan kering, menurunkan semua tirai kandang.
  • Melarutkan desinfektan sesuai aturan pemakaian dan memasukan ke dalam sprayer.
  • Menyemprotkan desinfektan tersebut keseluruh lantai dan dinding kandang.

3.3.2 Sanitasi peralatan kandang

  • Mencuci tempat pakan dan tempat minum dengan air.
  • Membilas tempat pakan dan tempat minum yang telah dibersihkan tersebut dengan larutan desinfektan kemudian biarkan kira-kira 10 menit.
  • Selanjutnya membilas dengan menggunakan air bersih dan jemur sampai kering.
  • Memasukkan tempat pakan dan tempat minum tersebut kedalam kandang yang telah disanitasi.
  • Menyemprot brooder dengan larutan desinfektan, lalu jemur sampai kering.
  • Mengapur brooder guard dengan kapur dinding dan biarkan kering,kemudian semprot dengan larutan desinfektan.
  • Memasukkan brooder dan brooder guard tersebut kedalam kandang yang disanitasi.

3.3.3 Menyiapkan kandang brooding

  • Menaburkan sekam padi (liter) setebal 5 cm diatas lantai kandang yang telah disanitasi.
  • Memasang brooder yang telah dipasangkan lampu.
  • Memasang brooder guard dengan membentuk lingkaran.
  • Menyalakan lampu brooder dan meletakkan termometer diatas liter pada ketinggian lebih kurang 10 cm.
  • Memperhatikan temperaturnya sampai stabil. Temperatur yang dibutukan pada minggu pertama adalah 950 F (350 C).

3.3.4 Pemeliharaan broiler pada masa brooding

  • Saat DOC tiba, memasukkan air minum yang diberikan gula merah ke dalam tempat minum dan meletakkan di atas liter.
  • Mengeluarkan DOC dari box-nya kemudian memasukkan kedalam lingkaran kandang brooding yang telah disiapkan.
  • Membiarkan DOC minum air gula tersebut sepuasnya.
  • Setelah DOC cukup minum, menaburkan pakan pada kardus bekas box DOC dan meletakan diatas liter. 
  • Lampu brooder dinyalakan sepanjang siang dan malam selama satu minggu pertama.
  • Memperhatikan sebaran anak ayam.
  • Setelah anak ayam berumur tiga hari,tempat pakan diganti dengan tempat pakan lingkaran.
  • Menghitung konsumsi pakan mingguan dengan menghitung jumlah pakan yang disediakan pada awal minggu dengan sisa pakan pada akhir minggu.
  • Menimbang berat awal DOC.
  • Menghitung konversi pakannya dengan cara mebandingkan rataan jumlah konsumsi pakan per ekor dengan rataan pertambahan berat badan per ekor.
  • Mencuci tempat minum setiap pagi dan sore.

3.3.5 Pemeliharaan broiler selapas masa brooding

  • Menyediakan tempat pakan dan minum ke dalam petak kandang.
  • Mengambil 5 ekor anak ayam dan menimbang untuk mengetahui berat awalnya.
  • Memasukkan berat ayam tersebut ke dalam petak kandang.
  • Menimbang anak ayam tersebut setiap 1 minggu sekali.
  • Mencatat konsumsi pakannya setiap minggu.
  • Menghitung konversi pakannya.
  • Pakan dan air minum diberikan ad libitum.
  • Ayam dipelihara sampai umur 5 minggu.

3.3.6 Vaksinasi

a. Vaksinasi melalui tetes mata

  • Mengambil/menyedot larutan dapar dengan menggunakan jarum apuit dari botolnya kemudian memasukan ke dalam botol vaksin.
  • Mengkocok secara perlahan botol vaksin supaya vaksinasinya larut.
  • Dengan menggunakan jarum spuit tadi, mengambil larutan vaksin tersebut dan memasukan ke dalam botol vaksin sampai habis.
  • Memegang anak ayam yang akan divaksin dengan posisi miring kemudian pegang kepalanya dengan ibu jari dan jari telunjuk.
  • Meneteskan vaksin pada matanya satu tetes saja.
  • Membiarkan tetesan vaksin tersebut sampai ayam terkedip atau nampak seperti menelan.
  • Melepaskan anak ayam tersebut dengan hati-hati.
  • Membakar sisa vaksin dan peralatannya.
  • Sehari sebelum vaksinasi, pada saat vaksinasi, dan sehari setelah vaksinasi, menambah air minumnya dengan antistres dengan kadar sesuai petunjuk pemberian antistres,

b. Vaksinasi melalui air minum

  • Tiga jam sebelum vaksinasi, mengambil tempat air minum ayam supaya ayam kehausan.
  • Melarutkan vaksin ND ke dalam air minum dan memberikannya.
  • Membiarkan ayam minum sepuasnya.

BAB IV
HASIL DAN PEMBAHASAN

4.1  Hasil Pengamatan

4.1.1 Konsumsi Pakan
No
Minggu Ke
Rata-rata Konsumsi (gram/ekor)
1
Pertama
173,98
2
Kedua
383,67
3
Ketiga
570
4
Keempat
880
5
Kelima
970


4.1.2 Rata-rata Berat Badan
No
Minggu Ke
Berat Badan/Minggu (gram/ekor)
1
Pertama
210
2
Kedua
540
3
Ketiga
970
4
Keempat
1612
5
Kelima
2230


4.1.3 Pertambahan berat badan
No
Minggu Ke
PBB/Minggu (gram/ekor)
1
Pertama
170
2
Kedua
330
3
Ketiga
430
4
Keempat
642
5
Kelima
618



4.1.4 Konversi Ransum
No
Minggu Ke
Konversi Ransum/Minggu (gram/ekor)
1
Pertama
1,02
2
Kedua
1,2
3
Ketiga
1,33
4
Keempat
1,4
5
Kelima
1,57

4.1.5 Income Over Feed Cost

  • Biaya Pakan
Harga pakan/kg                                   = Rp. 7.700
Jumlah Konsumsi pakan/ekor             = 2977,59 gram
Jadi biaya pakan                                 = Rp 7.700 x 2.977,59
                                                            = Rp. 22.927,443/ekor

Harga jual ayam/kg                             = Rp. 17.000
Bobot ayam keseluruhan                     = 11,150 kg

Jadi
IOFC              = (Bobot keseluruhan x harga jual) – biaya pakan keseluruhan
                        = (2,230 kg x 17.000) – 22.927,443
                        = Rp. 37.400 – Rp. 22.927,443
                        = Rp. 14.472,557

4.1.6 Income Over Feed And Chick Cost

Harga Doc/ekor                       = Rp 5.500
Jadi
IOFCC                                    = IOFC – harga keseluruhan DOC
                                                = Rp. 14.472,557 – Rp. 5.500
                                                = Rp. 8.972,557

4.2  Pembahasan

Pada praktikum ini kami melakukan pemeliharaan ayam broiler selama 5 minggu untuk melihat performa pertumbuhan ayam broiler.

Sebelum melakukan pemeliharaan, kami melakukan sanitasi terlebih dahulu baik sanitasi kandang, sanitasi peralatan kandang, dan menyiapkan kandang untuk brooding.

Ayam broier adalah unggas yang dipelihara untuk diambil dagingnya (tipe pedaging) dikarenakan performa pertumbuhan yang sangat tinggi. Menurut (Kunisius, 1986) Ayam broiler merupakan suatu ternak unggas hasil dari bududaya ayam yang bersifat ekonomis dengan pertumbuhan yang cukup cepat dalam menghasilkan daging yang siap potong dengan lama budidaya yang relative singkat, baik yang berjenis kelamin jantan maupun betina.

Kandang yang digunakan pada praktikum ini adalah kandang sistem litter yang memanfaatkan sekam padi untuk bahan litternya. Pada setiap kelompok diberi sekat yang berukuran kira-kira 1m x 1,5m. Sedangkan kandang besarnya adalah menggunakan kandang dengan konstruksi dinding ¾ setengah terbuka keatas, atap tipe monitor, lantai kandang rapat menggunakan semen. Kandang brooding juga disiapkan dengan membuat lingkaran pembatas dan ditengahnya diberikan pemanas untuk memanaskan suhu ruangan. Pemanas yang digunakan menggunakan bahan bakar batu bara.

Sanitasi bertujuan untuk menanggulangi penyakit dari berbagai mikroorganisme yang akan menyerang ayam broiler. Sanitasi yang dilakukan adalah sanitasi kandang agar kandang terhindar dari mikroorganisme yang merugikan, selain itu juga melakukan sanitasi terhadap peralatan kandang, seperti wadah pakan, wadah minum dan yang lainnya. Untuk cara melakukan sanitasi sudah dijelaskan pada bab III. Menurut (Suprijatna et al, 2008) Sanitasi adalah salah satu cara yang dilakukan untuk mencegah dan memberantas mikroorganisme yang mempunyai pengaruh yang berbahaya terhadap kesehatan ternak. Cara sanitasi yang baik adalah suatu faktor yang penting dalam manajeman pencegahan penyakit.

Pemeliharaan dilakukan mulai pada tanggal 16 September 2017. Ini adalah pemeliharaan masa brooding yang menggunakan kandang brooding yang telah disiapkan sebelum DOC datang. Setelah 2 minggu dipelihara di kandang brooding, kemudian di pindahkan ke kandang litter. Menurut (Martidjo, 1987) Pemeliharaan minggu pertama memerlukan pengawasan yang khusus karena di dlam periode ini, DOC sedang mengalami tahap penyesuaian dengan tempat yang baru. Pemeliharaan DOC umur 1 minggu dengan cara: DOC yang barudibeli satu-persatu dipindahkan ke kandang yang sudah terdapat lampu sebagai pemanas.

Pada tabel konsumsi pakan, dari minggu ke minggu mengalami kenaikanmulai dari 173,98 gram, minggu kedua adalah 383,687 gram, minggu ketiga 570 gram, minggu keempat 880 gram, minggu kelima 970 gram. Sedangkan berat badan rata-rata dari mulai DOC tiba adalah 40 gram, minggu pertama 210, minggu kedua 540, minggu ketiga 970, minggu keempat 1612 minggu kelima 2230. Menurut (Kartasudjana, 2006) bahwa pertumbuhan yang paling cepat terjadi sejak menetas sampai umur 4-6 minggu, kemudian mengalami penurunan dan terhenti sampai mencapai dewasa. Kecepatan pertumbuhan dapat diukur dengan menimbang pertambahan berat badan secara berulang setiap hari atau setiap minggu. Kemudian berdasarkan (Anggorodi, 1985) yang menyatakan bahwa pertumbuhan ternak dimulai secara perlahan kemudian cepat hingga pada akhirnya terhenti sama sekali dan jika digambarkan akan membentuk kurva sigmoidal.

Berdasarkan grafik pertumbuhan ayam broiler umur 0-5 minggu, ayam broiler mengalami peningkatan jumlah berat badan yang relatif stabil, tetapi peningkatan yang paling signifikan terjadi pada minggu keempat yaitu terjadi peningkatan sekitar 642 g/ekor. Menurut (Amrullah, 2003), pertambahan berat badan yang ideal adalah 400 gram per minggu untuk jantan dan untuk betina 300 gram per minggu. Sedangkan (Tantalo, 2009), menyatakan pertambahan berat badan strain ayam broiler lohmaan MB-202 adalah berkisar antara 46,30 gram per ekor per hari atau berkisar 155,12 gram per minggu.

BAB V
PENUTUP

5.1  Kesimpulan

Dari hasil praktikum mengenai performa pertumbuhan ayam broiler yang telah dilakukan selama 5 minggu dapat disimpulkan bahwa: 

Untuk pemeliharaan ayam broiler hal yang perlu diperhatikan yaitu manajemen dalam pemeliharaan ayam broiler, baik itu mengenai manajemen pakan, kandang, penerimaan DOC, suhu, liter dll. Jika manajemen perawatan ayam broiler baik dan sesuai dengan prosedur yang ada akan meningkatkan keuntungan dan meminimalis kerugian. Dari pratikum yang kami lakukan didapat IOFC adalah Rp. 14.472,557, sedangkan IOFCC adalah Rp. 8.972,557.

5.2  Saran

Selama praktikum diharapkan agar praktikan tepat waktu dalam melakukan praktikum terutama pada waktu pemberian pakan dan minum ayam broiler serta harus selalu mengawasi keadaan kandang seperti mengecek kondisi suhu kandang dan kebersihan kandang.

DAFTAR PUSTAKA

Amrullah, I. K. 2003. Nutrisi Ayam Broiler. Lembaga Satu Gunung Budi. Bogor.
Anggorodi, R.. 1985.Ilmu Makanan Ternak. UI. Press. Jakarta.
Azis, A., F. Manin, dan Afriani. 2010. Penampilan produksi ayam broiler yang diberi Bacillus circulans dan Bacillus sp. selama periode pemulihan setelah pembatasan ransum. Med.Pet. 33: 12-17. Bogor
Cahyono dan Bambang, 1995.Cara Meningkatkan Budidaya Ayam Ras Pedaging (broiler). Penerbit Pustaka Nusatama. Yogyakarta.
Fadillah. R, 2007. Sukses Berternak Ayam Broiler.PT.Agromedia Pustaka. Ciganjur.
Harto, W. 1987. Pedoman Beternak Ayam Broiler. Karnisius. Yogyakarta.
Kartini. 2011.Kandungan Zat Pakan Jagung. http://putramegatawang.com/kandungan-zat pakan-jagung.html.
Roman, 2008.Panduan Mengelola Peternakan Ayam Broiler Komersial. Agromedia pustaka. Jakarta.
Priatno, Martono.A, 2004. Membuat Kandanng Ayam. PT. Penebar Swadaya. Jakarta.
Rasyaf. M, 1994. Beternak Ayam Petelur.Penebar Swadaya: Jakarta
Sugandi, 1978. Tatalaksana Pemeliharaan Ayam Pedaging Strain MB 202-p Periode Starter - Finisher. PT. Janu Putro Sentosa: Bogor.
Suprijatna, E., dan R. Kartasudjana. 2006. Manajemen Ternak Unggas. Penebar Swadaya. Jakarta.
Dwi Sulistiyo

Hallo Sobat Semua, Saya Dwi Sulistiyo. Penulis modal nekat. Follow IG ya: @sulistiyo_27 Terima Kasih sudah Berkunjung...

Mohon untuk menggunakan kata yang tidak menyinggung unsur SARA. Dan juga tidak menggunakan unsur Phornography. Terima kasih telah mengikuti aturan dalam website ini.

Terima Kasih
Dwi Sulistiyo